I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sektor pertanian, perikanan dan kehutanan secara langsung berperan penting dalam proses perekonomian masyarakat pertanian, perikanan dan kehutanan secara luas. Segala potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia serta kesiapan pendukung lainnya perlu dimanfaatkan dan dikelola sebaik-baiknya karena sektor diatas dapat menjadikan andalan pertumbuhan pembangunan ekonomi.
Kondisi keterpurukan ekonomi yang berubah pada sektor pertanian di perdesaan secara luas ini tidak bisa dibiarkan, perlunya suatu terobosan untuk mengangkat derajat perekonomian perdesaan di Kabupaten Bogor yang salah satunya dapat dilakukan melalui peningkatan aktivitas sekaligus pengembangan pertanian, perikanan dan kehutanan di wilayah perdesaan dan kawasan pertanian, perikanan dan kehutanan yang dianggap strategis yang memiliki potensi alam maupun potensi geografis.
Mencermati kondisi dan harapan diatas, saatnya kelembagaan penyuluhan berkonsentrasi dan fokus terhadap pembangunan perdesaan melalui proses awal penyusunan Rencana Kerja Penyelenggaraan Penyuluhan, yang disusun dengan memperhatikan keterpaduan dan kesinergisan dengan rencana kerja penyelenggaraan penyuluhan di berbagai tingkatan, yang sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 (SP3K) Pasal 13.
Proses perencanaan penyelenggaraan penyuluhan merupakan unsur pendukung suksesnya pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan di Kabupaten Bogor sekaligus sebagai alat pengendali yang strategis untuk dapat dioperasionalkan sebagai penggerak ekonomi perdesaan ke depan, yang menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang memberikan spread effect terhadap pengembangan wilayah di Kabupaten Bogor.
Program revitalisasi pertanian yang dijabarkan dalam bentuk revitalisasi penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan secara implementatif, masih menghadapi beberapa kendala terutama pada aspek sumberdaya manusia seperti keterbatasan lahan, keterbatasan modal, keterbatasan manajemen / teknologi yang disebabkan oleh rendahnya pengetahuan, perubahan sikap yang lambat, serta keterampilan yang kurang memadai, merupakan hal yang tercetus secara aspirasi dalam proses penggalian masalah petani selama ini.
Urgensinya penyelenggaraan penyuluhan adalah eksistensi dalam proses peningkatan pengetahuan, sikap yang mandiri dan keterampilan yang bertambah pada sasaran / pelaku utama dan pelaku usaha adalah komponen penting, mengingat hal tersebut sangat signifikan dengan pembangunan ekonomi lokal seperti ketahanan pangan, kelestarian lingkungan dalam pembangunan perdesaan yang didukung dengan potensial seperti infrastruktur yang menjadikan kawasan ekonomi perdesaan sebagai pusat pertumbuhan pembangunan perdesaan di wilayah Kabupaten Bogor.
Mengingat bahwa penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan bersifat non formal dengan sasaran yang variatif dan heterogen, maka penyelenggaraan penyuluhan memerlukan model strategis aplikatif yang dikemas melalui metodologi yang tepat, media yang memadai dan teknis yang profesional dalam operasionalisasinya. Oleh karena itu salah satu keberhasilan penyelenggaraan penyuluhan di Kabupaten Bogor akan sangat ditentukan oleh gerakan dinamisasi para penyuluh dalam mengaplikasikan dan memadukan metoda-media-teknis dalam menggerakannya.
1.2. Tujuan Penyusunan
a. Sebagai pedoman / acuan pihak penyelenggara penyuluhan
b. Untuk meningkatkan fungsi dan peran penyuluhan melalui kesamaan pola, sikap dan gerak yang terencana, terarah dan terkendali.
c. Tersusunnya alat / instrumen monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyuluhan serta pencapaian tujuan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan.
d. Tersedianya fasilitasi bimbingan penyuluhan kepada sasaran (pelaku utama dan pelaku usaha)
II. KEADAAN UMUM WILAYAH BINAAN
2.1. Deskripsi Umum
2.1.1. Letak Wilayah
Secara geografis, Kabupaten Bogor adalah sebuah kabupaten di Propinsi Jawa Barat dengan Ibukota Cibinong yang terletak antara 6.190 – 6.470 Lintang Selatan dan 106.10 – 107.1030 Bujur Timur.
2.1.2. Luas Wilayah
Kabupaten Bogor memiliki luas wilayah sebesar 2.237,09 Km2 dan merupakan salah satu wilayah administratif terluas (ke – 6) di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Bogor terdiri dari 40 kecamatan dengan jumlah total desa / kelurahan paling banyak se – Provinsi Jawa Barat yaitu berjumlah 428 desa / kelurahan (200 desa / kelurahan termasuk dalam klasifikasi perkotaan sedangkan 228 desa lainnya berstatus perdesaan. Sumber : BPS Tahun 2008)
2.1.3. Batas Wilayah
Pada posisi pemetaan, batas wilayah binaan dapat diuraikan sebagai berikut :
Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Lebak – Provinsi Banten
Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Lebak – Provinsi Banten
Timur Laut : Berbatasan dengan Kabupaten Kabupaten Bekasi
Barat Daya : Berbatasan dengan Kabupaten Tanggerang (Provinsi Banten)
Utara : Berbatasan dengan Kota Depok
Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Sukabumi
Tenggara : Berbatasan dengan Kabupaten Cianjur
2.2. Potensi Sumber Daya Alam
2.2.1. Topografi
Klasifikasi dan deskripsi tanah di Kabupaten Bogor dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Tanah Alluvial
Terbentuk dari hasil sedimentasi erosi tanah dengan bahan Aluvial dan Koluvial, dari aneka macam asal tofografi datar sampai sedikit bergelombang di daerah dataran, cekungan dan daerah aliran sungai. Jenis ini terdapat di Kecamatan Gunung Putri.
b. Tanah Podsolik
Ketebalan Solum antara 50 – 180 cm, dengan batasan horison yang nyata warna merah kuning dengan strukur lempung berpasir Osol hingga liat. Jenis tanah ini terdapat di kecamatan Cisarua, Cijeruk, Leuwiliang dan Nanggung.
c. Tanah Andosol
Jenis tanah ini terdapat pada tofografi datar, bergelombang dan berbukit. Jenis ini terdapat di kecamatan Babakan Madang, Jonggol dan Cileungsi.
d. Tanah Latosol
Ketebalan jenis tanah ini antara 130 – 500 mm, batas horizon jelas, warna merah, coklat sampai kuning, pH tanah 4.5 – 6.5 dengan tekstur tanah liat dan struktur renah, daya menahan air cukup baik dan agak tahan menahan erosi. Jenis tanah ini berada di Kecamatan Dramaga, Ciomas, Cibungbulang, Caringin, Cisarua, Megamendung, Sukaraja, Citereup, Gunung Putri, Rumpin, Cigudeg dan Parung Panjang.
Ketinggian tempat di Kabupaten Bogor berkisar dari 15 mdpl pada dataran di bagian utara hingga 2.500 mdpl pada puncak-puncak gunung di bagian selatan dengan monografi wilayah utara hingga selatan berturut-turut meliputi :
- Dataran rendah (15 – 100 mdpl), sekitar 29,28% dari luas wilayah
- Dataran bergelombang (100 – 150 mdpl), sekitar 46,62% dari luas wilayah.
- Pegunungan (500 – 1.000 mdpl), sekitar 19,53% dari luas wilayah.
- Pegunungan tinggi (1.000 – 1.200 mdpl), sekitar 8.43% dari luas wilayah.
Secara umum wilayah Kabupaten Bogor mempunyai kemiringan relatif ke arah utara. Sungai-sungai mengalir dari daerah pian, pegunungan di bagian selatan ke arah utara yang meliputi 6 Daerah Aliran Sungai yaitu DAS Cidurian, Cimanceuri, Cisadane, Ciliwung, Bekasi dan Citarum (khususnya DAS Cipamingkis dan Cibeet). Dengan demikian wilayah Kabupaten Bogor merupakan wilayah hulu bagi wilayah-wilayah di sebelah utara (Tangerang, Depok, DKI Jakarta dan Bekasi).
Sungai-sungai pada masing-masing DAS tersebut mempunyai fungsi yang sangat strategis yaitu sebagai sumber air irigasi pertanian, perikanan, rumah tangga dan industri serta drainase utama wilayah. Selain itu, terdapat situ-situ yang berfungsi sebagai reservoar dalam peresapan air dan dapat juga dimanfaatkan usaha perikanan, penampungan air dan rekreasi.
2.2.2. Curah Hujan
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, iklim di Kabupaten Bogor termasuk tipe A (Sangat Basah) untuk bagian selatan sedangkan bagian barat termasuk tipe B (Basah). Suhu udara berkisar antara 200 – 300 C, sementara suhu rata-rata tahunan sekitar 250 C. Curah hujan tahunan berkisar 2.500 – 5.000 mm / tahun, kecuali sebagian kecil di bagian Utara yang berbatasan dengan Kabupaten Tangerang dan DKI Jakarta dengan Curah Hujan yang kurang dari 2.500 mm.
Sedangkan klasifikasi iklim berdasarkan data Stasiun Klimatologi dan Geofisika Dramaga, Kabupaten Bogor termasuk ke dalam :
1. Iklim Basah, dengan curah hujan per tahun mencapai 2.500 mm atau lebih, antara lain meliputi Kecamatan Cisarua, Ciawi, Cijeruk, Caringin, Ciampea, Ciomas, Cibungbulang, Leuwiliang, Nanggung, Cigudeg, sebagian Jonggol dan Cariu.
2. Iklim Sedang, dengan curah hujan per tahun antara 1.200 – 1.600 mm, meliputi Kecamatan Sukaraja, Kemang, Parung, Cibinong, Bojonggede, Rumpin bagian Selatan dan Citeureup.
3. Iklim Kering, dengan curah hujan sekitar 1.200 mm per tahun, meliputi Kecamatan Tenjo, Rumpin, Parung Panjang, bagian Utara Gunung Putri dan Cileungsi.
2.2.3. Klasifikasi dan Tata Guna Lahan
Tabel 1. Klasifikasi dan Tata Guna Lahan
Klasifikasi Jenis Lahan Menurut Tata Gunanya
|
No
|
Jenis Lahan
|
Luas ( Ha )
|
|
1.
|
Pertanian
a. Lahan Sawah
b. Lahan Bukan Sawah
|
48.888
110.264,36
|
|
2.
|
Perkebunan
a. Perkebunan Besar Negara
b. Perkebunan Besar Swasta
c. Perkebunan Rakyat
|
5.129,15
4.128,35
14.102,20
|
|
3.
|
Kehutanan
a. Hutan Negara
b. Hutan Rakyat
|
79.436,75
15.345,65
|
|
4.
|
Hortikultura
a. Sayuran
b. Buah-buahan
c. Tanaman HIas
d. Biofarmaka
|
11.859
474.946 pohon
529.252
160,48
|
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Tahun 2009
Penggunaan Lahan Pertanian dan Kehutanan
|
No
|
Potensi
|
Luas ( Ha )
|
|
A.
|
Lahan Pertanian
|
|
|
1
|
Lahan Sawah
|
48.888
|
|
2
|
Lahan Bukan Sawah
|
110.264,36
|
|
- Tegal Kebun
|
56.277,00
|
|
- Ladang/Huma
|
10.671,00
|
|
- Penggembalaan/padang
|
1.510,00
|
|
- Sementara tidak diusahakan
|
710,00
|
|
- Perkebunan Besar Negara
|
5.219,15
|
|
- Perkebunan Besar Swasta
|
4.128,35
|
|
- Perkebunan Rakyat
|
14.102,20
|
|
- Ditanami pohon/Hutan Rakyat
|
15.345,66
|
|
- Kolam/Tebat/Empang
|
2.351,00
|
|
B.
|
Lahan Bukan Pertanian
|
140.837,64
|
|
1
|
Rumah Bangunan dan Halaman Sekitar
|
43.186,00
|
|
2
|
Hutan Negara
|
79.436,00
|
|
3
|
Rawa-rawa
|
153,00
|
|
4
|
Lainnya
|
18.061,89
|
|
JUMLAH
|
299.990
|
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Tahun 2009
Klasifikasi Jenis Usaha Peternakan dan Tata Gunanya
|
No
|
Jenis Lahan
|
Luas ( Ha )
|
|
1.
|
Peternakan
a. Ternak Besar
- Sapi Perah
- Sapi Potong
- Kerbau
b. Ternak Kecil
- Domba
- Babi
- Kambing
- Kambing PE
c. Ayam Petelur/Layer
d. Ayam Pedaging/Broiler
e. Ayam Kampung/Buras
f. Kelinci
g. Kuda
|
93,83
50,91
41,66
123,97
4,88
125,98
10,62
156
349,63
10,126
21,30
12,91
|
|
JUMLAH
|
1.006,916
|
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009
Klasifikasi Jenis Usaha Perikanan dan Tata Gunanya
|
No
|
Jenis Usaha
|
Luas ( Ha )
|
|
A.
B.
C.
D.
|
Budidaya Perikanan Air Tawar
a. KAT ( Kolam Air Tenang )
b. KAD ( Kolam Air Deras )
c. Perikanan sawah
d. Jaring Apung
e. Karamba
Perikanan Tangkap Air Tawar / Perairan umum
Ikan Hias
Pembenihan
|
1,704.000
17.706
591.200
0,935
0,098
1,031.340
52.680
203.000
|
|
JUMLAH
|
3.599.927
|
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009
2.3. Potensi Sumber Daya Manusia
Segenap proses penyelenggaraan penyuluhan tentunya tidak terlepas dari dukungan potensi sumberdaya manusia baik aparatur serta terutama pelaku utama dan pelaku usaha, sebagai salah satu unsur utama yang akan menentukan tingkat keberhasilan penyelenggaraan penyuluhan, yang diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan skala usaha tani beserta tingkat kesejahteraannya.
Berdasarkan Sensus Daerah (SUSDA) Tahun 2007, penduduk Kabupaten Bogor berjumlah 4.237.962 jiwa, dengan 43,7% (146.375 KK) dari total jumlah penduduknya tinggal di wilayah perdesaan, sedangkan 56,3% (150.982 KK) sisanya tinggal di perkotaan.
Tabel 2. Jumlah Penduduk Kabupaten Bogor Menurut Kecamatan
|
NO
|
KECAMATAN
|
JENIS KELAMIN
|
JUMLAH
|
|
LAKI – LAKI
|
PEREMPUAN
|
|
1
|
NANGGUNG
|
45.679
|
42.400
|
88.079
|
|
2
|
LEUWILIANG
|
57.448
|
53.718
|
111.166
|
|
3
|
LEUWISADENG
|
37.565
|
35.014
|
72.579
|
|
4
|
PAMIJAHAN
|
70.008
|
65.799
|
135.807
|
|
5
|
CIBUNGBULANG
|
63.290
|
59.059
|
122.349
|
|
6
|
CIAMPEA
|
71.913
|
67.225
|
139.138
|
|
7
|
TENJOLAYA
|
26.586
|
24.458
|
51.044
|
|
8
|
DRAMAGA
|
46.648
|
43.367
|
90.015
|
|
9
|
CIOMAS
|
65.714
|
62.874
|
128.588
|
|
10
|
TAMANSARI
|
42.557
|
39.353
|
81.910
|
|
11
|
CIJERUK
|
38.752
|
36.197
|
74.949
|
|
12
|
CIGOMBONG
|
42.724
|
40.267
|
82.991
|
|
13
|
CARINGIN
|
56.687
|
52.858
|
109.545
|
|
14
|
CIAWI
|
47.951
|
44.548
|
92.499
|
|
15
|
CISARUA
|
57.139
|
52.627
|
109.766
|
|
16
|
MEGAMENDUNG
|
47.552
|
43.514
|
91.066
|
|
17
|
SUKARAJA
|
78.048
|
73.822
|
151.870
|
|
18
|
BABAKAN MADANG
|
44.469
|
41.674
|
86.143
|
|
19
|
SUKAMAKMUR
|
38.417
|
35.775
|
74.192
|
|
20
|
CARIU
|
23.865
|
23.300
|
47.165
|
|
21
|
TANJUNG SARI
|
25.025
|
23.753
|
48.778
|
|
22
|
JONGGOL
|
57.626
|
55.096
|
112.722
|
|
23
|
CILEUNGSI
|
101.346
|
98.664
|
200.010
|
|
24
|
KLAPANUNGGAL
|
38.940
|
37.136
|
76.076
|
|
25
|
GUNUNG PUTRI
|
93.627
|
93.217
|
186.844
|
|
26
|
CITEUREUP
|
85.178
|
82.702
|
167.880
|
|
27
|
CIBINONG
|
126.666
|
124.029
|
250.695
|
|
28
|
BOJONGGEDE
|
105.485
|
100.083
|
205.568
|
|
29
|
TAJURHALANG
|
44.987
|
42.534
|
87.521
|
|
30
|
KEMANG
|
40.920
|
38.691
|
79.611
|
|
31
|
RANCABUNGUR
|
25.144
|
23.297
|
48.441
|
|
32
|
PARUNG
|
52.253
|
49.135
|
101.388
|
|
33
|
CISEENG
|
48.704
|
45.407
|
94.111
|
|
34
|
GUNUNG SINDUR
|
43.466
|
41.272
|
84.738
|
|
35
|
RUMPIN
|
64.765
|
59.861
|
124.626
|
|
36
|
CIGUDEG
|
58.503
|
54.282
|
112.785
|
|
37
|
SUKAJAYA
|
32.580
|
30.305
|
62.885
|
|
38
|
JASINGA
|
49.215
|
45.914
|
95.129
|
|
39
|
TENJO
|
33.014
|
30.806
|
63.820
|
|
40
|
PARUNG PANJANG
|
48.375
|
45.098
|
93.473
|
|
TOTAL
|
2.178.831
|
2.059.131
|
4.237.962
|
Sumber: www.kab.bogor.go.id
2.3.1. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
|
No
|
Ijasah Tertinggi
Yang dimiliki
|
Laki – Laki
|
Perempuan
|
Jumlah
|
|
1
|
Tidak Punya
|
396.464
|
540.688
|
937.152
|
|
2
|
SD / MI / Sederajat
|
561.563
|
522.682
|
1.084.245
|
|
3
|
SLTP / MTs / Sederajat
|
315.319
|
242.480
|
558.393
|
|
4
|
SLTA / MA / Sederajat
|
200.203
|
141.318
|
341.521
|
|
5
|
SM Kejuruan
|
98.548
|
60.627
|
159.175
|
|
6
|
Diploma I / II
|
8.769
|
9.727
|
18.496
|
|
7
|
Diploma III / Sarjana Muda
|
8.914
|
10.511
|
19.425
|
|
8
|
Diploma IV / S1
|
27.381
|
10.453
|
37.834
|
|
9
|
S2 / S3
|
2.381
|
3.252
|
5.633
|
|
JUMLAH
|
1.620.136
|
1.541.738
|
3.161.874
|
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor
2.3.2. Jumlah Penduduk Tani Menurut Status
Tabel 4. Jumlah Penduduk Tani Menurut Status
|
No
|
Kecamatan
|
RT Pertanian (RTP)
|
RT Petani Gurem
|
|
1.
|
Tenjo
|
6.508
|
5.479
|
|
2.
|
Parungpanjang
|
2.370
|
2.068
|
|
3.
|
Jasinga
|
4.516
|
3.195
|
|
4.
|
Cigudeg
|
7.143
|
4.410
|
|
5.
|
Sukajaya
|
5.759
|
4.027
|
|
6.
|
Nanggung
|
9.023
|
7.194
|
|
7.
|
Rumpin
|
7.880
|
6.685
|
|
8.
|
Leuwiliang
|
13.703
|
11.509
|
|
9.
|
Cibungbulang
|
55.885
|
5.081
|
|
10.
|
Pamijahan
|
11.340
|
9.639
|
|
11.
|
Ciampea
|
10.434
|
9.092
|
|
12.
|
Gunung Sindur
|
3.569
|
3.248
|
|
13.
|
Parung
|
3.957
|
3.627
|
|
14.
|
Ciseeng
|
6.210
|
5.682
|
|
15.
|
Kemang
|
4.164
|
3.903
|
|
16.
|
Rancabungur
|
3.102
|
2.923
|
|
17.
|
Dramaga
|
4.282
|
3.894
|
|
18.
|
Ciomas
|
1.822
|
1.752
|
|
19.
|
Tamansari
|
3.733
|
3.445
|
|
20.
|
Caringin
|
6.163
|
5.468
|
|
21.
|
Cijeruk
|
10.361
|
9.354
|
|
22.
|
Ciawi
|
3.720
|
3.403
|
|
23.
|
Megamendung
|
4.042
|
3.651
|
|
24.
|
Cisarua
|
2.757
|
2.309
|
|
25.
|
Sukaraja
|
4.848
|
4.458
|
|
26.
|
Citeureup
|
4.561
|
4.827
|
|
27.
|
Babakan Madang
|
7.666
|
6.201
|
|
28.
|
Cibinong
|
5.327
|
4.827
|
|
29.
|
Bojonggede
|
6.284
|
5.726
|
|
30.
|
Gunung Putri
|
7.262
|
7.099
|
|
31.
|
Cileungsi
|
7.039
|
6.551
|
|
32.
|
Jonggol
|
11.744
|
8.995
|
|
33.
|
Sukamakmur
|
13.343
|
9.228
|
|
34.
|
Cariu
|
15.056
|
9.614
|
|
35.
|
Klapanunggal
|
4.468
|
3.823
|
|
JUMLAH
|
280.041
|
192.387
|
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan tahun 2009*)
2.3.3. Jumlah Penduduk Peternak Menurut Usahanya
Tabel 5. Jumlah Penduduk Peternak Menurut Usahanya
|
No
|
Jenis Usaha
|
Jumlah RTP (orang)
|
|
1
2
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
11
12
13
14
16
17
18
|
Sapi Perah
Kambing PE
Sapi potong
Ternak Kerbau
Ternak Domba
Kambing PE
Non Kambing PE
Ternak ayam Ras Pedaging
Ternak Ayam Ras Petelur
Ternak Ayam ras pembibit
Anjing
Kucing
Kera
Rusa
Angsa
Kuda
Kelinci
|
465
534
3.676
5.072
33.716
534
22.742
17.776
89.134
11
4967
13.749
13
177
25
84
1075
|
|
Jumlah
|
193.939
|
Sumber: Dinas peternakan dan perikanan tahun 2009*)
2.3.4. Jumlah Penduduk Pembudidaya Ikan Menurut Usahanya
Tabel 6. Jumlah Penduduk Pembudidaya Ikan Menurut Usahanya
|
No
|
Jenis Usaha
|
Jumlah RTP (orang)
|
|
A.
B.
C. D.
|
Budidaya Perikanan Air Tawar
- KAT ( Kolam Air Tenang )
- KAD ( Kolam Air Deras )
- Perikanan sawah
- Jaring Apung
- Karamba
Perikanan Tangkap Air Tawar
- Perairan Umum
Ikan Hias
Pembenihan
|
6.595
475
2,178
195
158
1,380
716
1,256
|
|
Jumlah
|
8.144
|
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009
2.4. Kelembagaan Pertanian / Peternakan / Perikanan / Kehutanan
Pada pelaksanaannya, proses penyelenggaraan penyuluhan ditentukan pula oleh kuantitas dan kualitas kelembagaan tani baik dalam hal proses pembentukannya yang wajib berawal dari inisiatif dan keinginan serta kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha, hingga pada tahap pendampingan dan pembinaannya yang dilakukan secara berkelanjutan dan berkesinambungan oleh aparatur penyuluhan.
Tabel 7. Jumlah Kelompok Berdasarkan Kelas Kemampuan
|
Kelas Kelompok
|
Jumlah Kelompok
|
|
Pemula
|
690
|
|
Lanjut
|
1.029
|
|
Madya
|
200
|
|
Utama
|
13
|
|
JUMLAH
|
1.932
|
Sumber : Hasil Validasi Kelompok Tahun 2009
2.4.1. Kelembagaan Tani
Tabel 8. Kelembagaan Tani
|
No
|
Kelompok Tani
|
Jumlah
( Kelompok )
|
|
1.
|
Kelompok Pengelola Hasil
|
32
|
|
2.
|
P4K
|
277
|
|
3.
|
Gapoktan
|
228
|
|
4
|
Koptan
|
33
|
|
5
|
Pelaku Usaha Tani Tanaman Obat
|
8
|
|
6
|
SPKP
|
1
|
|
7
|
Pengecer Kios Resmi PT. Pupuk Kujang
|
8
|
|
8
|
Pengecer Kios Resmi PT. Petro
|
3
|
|
9
|
Perusahaan UPJA Pertanian dan Kehutanan
|
22
|
|
10
|
Perusahaan penggilingan Padi
|
22
|
|
11
|
Kios sarana Produksi
|
39
|
|
12
|
Penangkar benih Padi dengan Palawija
|
51
|
|
Jumlah
|
723
|
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan kabupaten Bogor 2009
2.4.2. Kelembagaan Peternak
Tabel 9. Kelembagaan Peternak
|
No
|
Kelompok Ternak / Kunak
|
Jumlah
(Kelompok)
|
|
1.
|
Tani ternak
|
78
|
|
2.
|
Kopnak
- Giri Tani
- Bintang resmi
- KPS Bogor
|
3
|
|
3
|
Pengolahan Hasil ternak
- Perusahaan
- Usaha Rumah Tangga (Pangan)
- Non Pangan
|
19
23
2
|
|
Jumlah
|
125
|
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bogor Tahun 2009
2.4.3. Kelembagaan Pembudidaya Ikan
Tabel 10. Kelembagaan Pembudidaya Ikan
|
No
|
Jenis
|
Jumlah
|
|
1.
|
Pengolah hasil perikanan
|
35
|
|
2
|
Koperasi Perikanan
|
1
|
|
3
|
Himpunan Pembudidaya Ikan
|
5
|
|
4
|
Balai Benih Ikan
|
2
|
|
Jumlah
|
43
|
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bogor Tahun 2009
2.4.4. Kelembagaan Kehutanan / Perkebunan Rakyat
Tabel 11. Kelembagaan Kehutanan / Perkebunan Rakyat
|
No
|
Kelompok Kehutanan
|
Jumlah (Kelompok)
|
|
1.
|
KUP (Kelompok Usaha Produktif)
|
4
|
|
2.
|
SPKP (Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan)
|
1
|
|
3.
|
PKSM (Penyuluhan Kehutanan Swadaya Masyarakat)
|
35 orang
|
|
4.
|
Penangkar Benih Buah-buahan dengan kayu-kayuan
|
52
|
|
5.
|
Perusahaan Penggergajian
|
16
|
|
6.
|
UPH
|
7
|
|
Jumlah
|
115
|
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Tahun 2009
2.4.5. Lembaga Penunjang Usaha Tani / Peternak / Pembudidaya / Kehutanan
Tabel 12. Lembaga Penunjang Usaha Tani / Peternak / Pembudidaya / Kehutanan
Pusat Pelatihan Penyuluhan Pertanian Swakarsa (P4S)
|
No
|
Nama P4S
|
Pengelola
|
Lokasi
|
Jenis Usaha
|
|
1.
|
Antanan
|
Andi S
|
Ds. Cimande
Kec. Caringin
|
Kompos, salak pondoh
|
|
2.
|
Silih Asih
|
H. Zakaria
|
Ds. Ciburuy
Kec. Cijeruk
|
Padi sehat,
Ikan air tawar
|
|
3.
|
Mina Lestari
|
Munir
|
Ds. Cinagara
Kec. Caringin
|
Sayuran,
Kolam air deras
|
|
4.
|
Nusa Indah
|
Cucu Komalasari
|
Ds. Tamansari
Kec. Tamansari
|
Jamur Kayu,
Tanaman hias
|
|
5.
|
Melati
|
Siti Maryam
|
Ds. Cimulang
Kec. Rcbungur
|
Jamur Kayu,
Tanaman Toga
|
|
6.
|
Kaliwung Kalimuncar
|
Badri
|
Ds. Tugu Utara
Kec. Cisarua
|
Jamur kayu,
Kompos, bibit tan. kehutanan
|
|
7.
|
Kopses
|
Tohawi, SH
|
Ds. Cibeuteung Muara
Kec. Ciseeng
|
Ikan Gurame
|
|
8.
|
Bunga Wortel
|
H. Rahmat
|
Ds. Citeko
Kec. Cisarua
|
Sayuran dat. Tinggi, peternakan
|
|
9.
|
Kalicimandala
|
Yaman
|
Ds. Batulayang
Kec. Cisarua
|
Sayuran dat. Tinggi sehat
|
|
10.
|
Bina Sejahtera
|
Harun AR
|
Ds. Cileungsi
Kec. Ciawi
|
Sayuran, kelinci, ikan lele
|
|
11.
|
Darul Falah
|
Adih P
|
Kec. Ciampea
|
Tan. Hortikultura, kompos, kuljar
|
|
12.
|
Karya Mekar
|
Iis I.
|
Ds. Karacak
Kec. Leuwiliang
|
Manggis, ekologi tanah, kehilangan hasil
|
|
13.
|
Pandan Wangi
|
Zulfakar
|
Ds. Karehkel
Kec. Rumpin
|
Padi, P3A Mitra Cai
|
|
14.
|
Tepangsono
|
Ujang S
|
Ds. Cibatok II
Kec. Cb.bulang
|
Pepaya, pengolahan hasil
|
|
15.
|
Karya Terpadu
|
H. Danu
|
Ds. Sukamulya
Kec. Sukamakmur
|
Padi
|
|
16.
|
Karya Mandiri
|
Abdul Rohim
|
Kec. Cigudeg
|
SRI, opak hati batang pisang (OHB)
|
|
17.
|
Mitra Sejahtera
|
H. Jam
|
Ds. Cibatutiga
Kec. Jonggol
|
Padi/SDR
|
|
18.
|
Baraya
|
Cecep Haerudin
|
Kec. Pamijahan
|
Padi, lele
|
|
19.
|
Intan Walagri
|
Cecep Yosef
|
Kec. Pamijahan
|
Tan. Kehutanan
|
|
20
|
Jaya Sentosa
|
Nasrudin
|
Kec. Megamendung
|
Lele
|
Sumber : BP4K Kabupaten Bogor Tahun 2009
Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Penerima Bantuan Langsung Masyarakat Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (BLM PUAP)
|
No
|
Nama Gapoktan
|
Lokasi
|
Jumlah (Rp)
|
|
Desa
|
Kecamatan
|
|
1.
|
Tani Maju
|
Tangkil
|
Caringin
|
100,000,000
|
|
2.
|
Bersaudara
|
Pasir Buncir
|
Caringin
|
100,000,000
|
|
3.
|
Suka Tani
|
Caringin
|
Caringin
|
100,000,000
|
|
4.
|
Dewi Sri
|
Ciburayut
|
Cigombong
|
100,000,000
|
|
5.
|
Sukagalih
|
Tugujaya
|
Cigombong
|
100,000,000
|
|
6.
|
Karya Mandiri
|
Ciasihan
|
Pamijahan
|
100,000,000
|
|
7.
|
Bina Usaha
|
Setudaun
|
Tenjolaya
|
100,000,000
|
|
8.
|
Sumber Rezeki
|
Bojongjengkol
|
Ciampea
|
100,000,000
|
|
9.
|
Harapan
|
Cihideung Udik
|
Ciampea
|
100,000,000
|
|
10.
|
Tani Berkah
|
Laladon
|
Ciomas
|
100,000,000
|
|
11.
|
Mandiri Jaya
|
Cikarawang
|
Dramaga
|
100,000,000
|
|
12.
|
Subur Makmur
|
Ciherang
|
Dramaga
|
100,000,000
|
|
13.
|
Harum Manis
|
Cirimekar
|
Cibinong
|
100,000,000
|
|
14.
|
Sukahati
|
Sukahati
|
Cibinong
|
100,000,000
|
|
15.
|
Karya Bersama
|
Pasirjambu
|
Sukaraja
|
100,000,000
|
|
16.
|
Maju Bersama
|
Cibatutiga
|
Cariu
|
100,000,000
|
|
17.
|
Silih Asih
|
Cikutamahi
|
Cariu
|
100,000,000
|
|
18.
|
Sari Alam
|
Babakan Raden
|
Cariu
|
100,000,000
|
|
19.
|
Rukun Tani
|
Citapen
|
Ciawi
|
100,000,000
|
|
20.
|
Bina Sejahtera
|
Cileungsi
|
Ciawi
|
100,000,000
|
|
21.
|
Makmur Jaya
|
Ciawi
|
Ciawi
|
100,000,000
|
|
22.
|
Karya Tani
|
Karacak
|
Leuwiliang
|
100,000,000
|
|
23.
|
Bersatu
|
Rawakalong
|
Gunungsindur
|
100,000,000
|
|
Jumlah
|
2,300,000,000
|
Sumber : BP4K Kabupaten Bogor Tahun 2009
Balai Benih Ikan (BBI) Di Kabupaten Bogor
|
No
|
Nama BBI
|
Lokasi
|
Luas Areal (Ha)
|
Jenis-jenis Ikan Yang dikembangkan
|
Produksi per Tahun (Ekor)
|
|
Kecamatan
|
Desa
|
|
1
|
BBI Cibitung
|
Tenjolaya
|
Cibitung Tengah
|
2,6
|
Mas, Lele, Tawes, Patin
|
3.640.000
|
|
2
|
BBI Cibening
|
Pamijahan
|
Cibening
|
2,4
|
Mas, Nila, Tawes
|
1.560.000
|
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009
2.5. Teknologi yang Telah Diuji-Coba
Selain upaya perubahan PSK pelaku utama dan pelaku usaha, diperlukan pula diseminasi teknologi yang sesuai dengan karakteristik spesifik lokasi dominan usaha tani, yang tentunya berkaitan erat dengan kebutuhan teknologi pelaku utama akan jenis inovasi teknologi untuk diterapkan.
Tabel 13. Inovasi Teknologi yang Diterapkan
Tingkat Penerapan Teknologi (TPT) Pertanian
|
No
|
Komoditas
|
*Tingkat Penerapan Teknologi (%)
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|
1
|
Padi
|
55
|
50
|
50
|
55
|
60
|
50
|
45
|
50
|
50
|
50
|
|
2
|
Padi Gogo
|
50
|
50
|
45
|
50
|
55
|
45
|
50
|
40
|
45
|
45
|
|
3
|
Jagung
|
45
|
40
|
50
|
55
|
45
|
40
|
55
|
50
|
45
|
50
|
|
4
|
Kedelai
|
40
|
40
|
50
|
60
|
55
|
45
|
45
|
50
|
45
|
50
|
|
5
|
Kacang Tanah
|
50
|
45
|
50
|
45
|
50
|
45
|
50
|
55
|
45
|
55
|
Sumber : BP4K Kabupaten Bogor Tahun 2009
Keterangan : * Unsur Teknologi
|
1. Benih/Bibit
2. Pengolahan Tanah
3. Jarak Tanam
|
4. Pergiliran varietas
5. Pemupukan
6. Tataguna Air
|
7. ZPT/PPC
8. Pengendalian Hama Terpadu
9. Panen
10. Pasca Panen
|
Tingkat Penerapan Teknologi (TPT) Peternakan
|
No
|
Komoditas
|
*Tingkat Penerapan Teknologi (%)
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|
1
|
Sapi
|
55
|
50
|
50
|
55
|
60
|
50
|
45
|
|
2
|
Kambing
|
50
|
35
|
45
|
50
|
55
|
45
|
50
|
|
3
|
Domba
|
45
|
40
|
50
|
55
|
45
|
40
|
55
|
|
4
|
Ayam
|
40
|
40
|
50
|
60
|
55
|
45
|
35
|
|
5
|
Itik
|
50
|
45
|
50
|
45
|
50
|
45
|
50
|
Sumber : BP4K Kabupaten Bogor Tahun 2009
Keterangan : * Unsur Teknologi
|
1. Bibit
2. Reproduksi
3. Pakan
|
4. Kandang
5. Penyakit
6. Manajemen dan Pemeliharaan
|
7. Pasca Panen dan pemasaran
|
Tingkat Penerapan Teknologi (TPT) Perikanan
|
No
|
Komoditas
|
*Tingkat Penerapan Teknologi (%)
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|
1
|
Gurame
|
50
|
45
|
50
|
45
|
50
|
50
|
50
|
|
2
|
Nila
|
50
|
50
|
45
|
50
|
50
|
50
|
50
|
|
3
|
Lele
|
45
|
50
|
50
|
45
|
45
|
45
|
40
|
|
4
|
Patin
|
45
|
50
|
50
|
45
|
50
|
50
|
40
|
|
5
|
Mas
|
50
|
45
|
45
|
50
|
45
|
50
|
40
|
|
6
|
Bawal
|
45
|
55
|
50
|
45
|
45
|
45
|
50
|
Sumber : BP4K Kabupaten Bogor Tahun 2009
Keterangan : * Unsur Penerapan Teknologi
|
1. Pengaturan Kolam
2. Seleksi Induk/Benih
3. Pakan
|
4. Kualitas Air
5.Pengendalian Hama Penyakit
|
6. Panen
7. Pasca Panen
|
Tingkat Penerapan Teknologi (TPT) Kehutanan
|
No
|
Komoditas
|
*Tingkat Penerapan Teknologi (%)
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
|
1
|
Jamur Tiram
|
40
|
45
|
40
|
45
|
54
|
50
|
|
2
|
Lebah Madu
|
50
|
50
|
45
|
35
|
|
|
|
3
|
Pembuatan persemaian
|
45
|
50
|
50
|
45
|
45
|
45
|
|
4.
|
Hutan rakyat/kebun rakyat
|
50
|
30
|
35
|
45
|
35
|
|
Sumber : BP4K Kabupaten Bogor Tahun 2009
Keterangan : * Unsur Penerapan Teknologi pada Jamur Tiram
|
1. Persiapan alat dan bahan
2. Persiapan Media
|
3. Sterilisasi / pengukusan
4. Inokulasi
|
5. inkubasi
6. Pemeliharaan produksi
|
Keterangan : * Unsur Penerapan Teknologi pada lebah madu
|
1. Pembuatan stup lebah
2. Pengisian Koloni
|
3. Pemeliharaan
4. Panen Madu
|
|
Keterangan : * Unsur Penerapan Teknologi pada persemaian
|
1. Pembuatan Bedengan
2. Pengisian Polybag
|
3. Pemilihan Benih
4. Perendaman Benih
|
5. Penaburan Benih / Penyemaian
6. Pemeliharaan
|
Keterangan : * Unsur Penerapan Teknologi pada hutan/kebun rakyat
|
1. Pengairan
2. Pembuatan
|
3. Penanaman
4. Pemupukan
|
5. Pemeliharaan Tanaman
|
2.6. Tingkat Pengelolaan Usaha Tani
Pengelolaan usaha tani sangatlah ditentukan dengan arah pendampingan dan pembinaan penyuluhan yang telah dan tengah dilakukan kaitannya dengan pengelolaan usaha tani, yang pada akhirnya berpengaruh pada sistem yang digunakan dalam pengelolaan usaha tani.
Tabel 14. Tingkat Pengelolaan Usaha Tani
Realisasi Produksi dan Produktivitas Padi, Palawija, Sayuran dan Buah-buahan
|
No
|
Komoditas
|
Produksi
|
Produktivitas
|
|
Sasaran (Ton)
|
Realisasi (Ton)
|
Sasaran
(Ku / Ha)
|
Realisasi
(Ku / Ha)
|
|
1.
|
Padi
a. Padi Sawah
b. Padi Gogo
|
504.817
10.431
|
485.104
7.638
|
61.78
31.71
|
63.01
28.50
|
|
Jumlah
|
515.248
|
492.742
|
|
|
|
2.
|
Palawija
a. Jagung
b. Kedelai
|
23.296
200
|
6.369
35
|
39,47
13.33
|
34.97
11,75
|
|
Jumlah
|
23.496
|
6.404
|
|
|
|
3.
|
Umbi – umbian
a. Ubi Kayu
b. Ubi Jalar
c. Talas
|
189.056
59.253
13.820
|
140.106
35.183
8.786
|
219.66
145.39
145.47
|
188.52
134.83
141.01
|
|
Jumlah
|
262.129
|
183.975
|
|
|
|
4.
|
Kacang – Kacangan
a. Kacang Tanah
b. Kacang Hijau
|
2.934
430
|
1.337
29
|
13,87
10.78
|
12.66
10.22
|
|
Jumlah
|
3.364
|
1.366
|
|
|
|
5.
|
Sayur – sayuran
a. Wortel
b. Bawang Daun
c. Ketimun
d. Kacang Panjang
e. Cabe
|
4.315
8.467
29.120
15.863
5.299
|
4.213
4.499
18.352
14.340
5.209
|
145,12
106,35
159.98
96.97
97.86
|
150,99
77,57
147,76
100,91
72,25
|
|
Jumlah
|
63.064
|
46.613
|
|
|
|
6.
|
Buah – buahan (Kg / Phn)
a. Durian
b. Rambutan
c. Manggis
d. Nenas
|
8.170
14.070
3.500
800
|
5.456
22.008
2.116
2.580
|
-
-
-
-
|
104,95
108,28
52,08
4,37
|
|
Jumlah
|
26.540
|
32.160
|
|
|
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Tahun 2009 *)
Sasaran Produksi Komoditas Unggulan Pertanian Tahun 2010
|
No
|
Komoditas
|
Luas Tanam
(Ha)
|
Luas Panen
(Ha)
|
Produksi (Ton)
|
|
1.
|
Padi Sawah
a. Padi Sawah
b. Padi Gogo
|
84.744
2.978
|
81.422
2.919
|
504.817
10.431
|
|
Jumlah
|
87.722
|
84.341
|
515.248
|
|
2.
|
Palawija
a. Jagung
b. Kedelai
|
7.870
250
|
5.903
150
|
23.296
200
|
|
Jumlah
|
8.120
|
6.053
|
23.496
|
|
3.
|
Umbi – umbian
a. Ubi Kayu
b. Ubi Jalar
c. Talas
|
10.035
4.290
1.099
|
8.607
4.067
950
|
189.056
59.253
13.820
|
|
Jumlah
|
15.414
|
13.624
|
262.129
|
|
4.
|
Kacang – Kacangan
a. Kacang Tanah
b. Kacang Hijau
|
2.200
420
|
2.112
399
|
2.934
430
|
|
Jumlah
|
2.620
|
2.511
|
3.364
|
|
5.
|
Sayur – sayuran
a. Bawang Daun
b. Wortel
c. Kacang Panjang
d. Cabe
e. Ketimun
|
838
313
1.722
570
1.916
|
796
297
1.636
542
1.820
|
8.467
4.315
15.863
5.299
29.120
|
|
Jumlah
|
5.359
|
5.091
|
63.064
|
|
|
Jumlah Pohon Menghasilkan
|
Produksi (Ton)
|
Produktivitas (Kg/pohon)
|
|
6.
|
Buah – buahan
a. Durian
b. Rambutan
c. Manggis
d. Nanas
|
51.986
203.242
40.631
590.113
|
54.456
22.008
2.116
2.580
|
10.495
10.828
5.208
437
|
|
Jumlah/Rata-rata
|
885.972
|
81.160
|
26.968
|
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Tahun 2009
Sasaran Produksi Komoditas Unggulan Perkebunan Tahun 2010
|
No
|
Komoditas
|
Luas (Ha)
|
Produksi Bahan Mentah (Ton)
|
Produksi Olahan (Ton)
|
|
1.
|
Cengkeh
|
1.347,62
|
842,24
|
280,75
|
|
2.
|
Kopi
|
2.503,18
|
6.406,17
|
1.281,23
|
|
3.
|
Pala
|
765,40
|
542,16
|
135,54
|
|
4.
|
Kelapa
|
7.572,60
|
28.039,96
|
7.009,99
|
|
5.
|
Kelapa Hibrida
|
59,05
|
105,10
|
26,28
|
|
6.
|
Karet
|
851,72
|
2.592,33
|
518,47
|
|
7.
|
Aren
|
116,05
|
486,06
|
97,21
|
|
8.
|
Vanili
|
24,54
|
78,31
|
15,66
|
|
9.
|
Lada
|
27,99
|
172,89
|
34,58
|
|
10.
|
Kapolaga
|
37,70
|
62,02
|
12,40
|
|
11.
|
Teh
|
50,54
|
73,48
|
14,70
|
|
12.
|
Kayu Manis
|
19,00
|
-
|
-
|
|
13.
|
Melinjo
|
710,00
|
315,00
|
-
|
|
14.
|
Kakao
|
4,80
|
1,62
|
0,41
|
|
15.
|
Kemiri
|
12,00
|
16,20
|
5,40
|
|
JUMLAH
|
14.102,19
|
39.733,54
|
9.432,62
|
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Tahun 2009
Data Perkembangan Populasi Jenis Ternak
|
No
|
Jenis Ternak
|
Jumlah Populasi
(Ekor)
|
Luas lahan (Ha)
|
|
1
|
Sapi Potong
|
17.252
|
50.916,4
|
|
2
|
Sapi Perah
|
6.146
|
93.832,4
|
|
3
|
Kerbau
|
17,891
|
41.663,5
|
|
4
|
Kambing PE
|
4.103
|
100.627,4
|
|
5
|
Kambing Non PE
|
106,516
|
125.988,3
|
|
6
|
Domba
|
203,826
|
123.975,3
|
|
7
|
Ayam Ras Petelur
|
3,019.470
|
156
|
|
8
|
Ayam Ras Pedaging
|
11,588,274
|
349.632,8
|
|
9
|
Ayam Ras Pembibit
|
1,159.922
|
10,126
|
|
10
|
Itik
|
128,197
|
|
|
11
|
Puyuh
|
14,000
|
|
|
12
|
Aneka Ternak
- Kuda
- Kelinci
- Kera
|
392
10,222
2,477
|
12.918,1
2.130,4
|
|
Jumlah
|
17.265.036
|
911.966,6
|
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009 *)
Data Realisasi Produksi Ternak 2009
|
No
|
Komoditas
|
Produksi (Kg)
|
|
1.
|
Ternak Besar
a. Sapi
b. Kerbau
|
4,805,711
170,461
|
|
Jumlah
|
4976172
|
|
2.
|
Ternak Kecil
a. Kambing
b. Domba
|
86,580
580,688
|
|
Jumlah
|
667268
|
|
3.
|
Unggas
Daging
a. Ayam Ras
b. Ayam Buras
c. Itik
|
57,434,111
910,046
80,392
|
|
Jumlah
|
58.424.549
|
|
Jumlah (1+2+3)
|
64.067.989
|
|
Telur (Kg)
a. Ayam Ras
b. Ayam Buras
c. Itik
|
27,753,790.65
602,920.11
839,206.83
|
|
Jumlah
|
29.195.917.59
|
|
4
|
Sapi Perah/susu (liter)
|
10,843,756.56
|
|
Jumlah
|
10,843,756.56
|
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor 2009
Lokasi Penyebaran Ternak Tahun 2010
|
No
|
Komoditas
|
Lokasi Penyebaran
|
Jumlah
|
|
Kelompok
|
Desa
|
Kecamatan
|
Ekor
|
KK
|
|
1
|
Sapi Perah
|
Tirta Kencana
Sejahtera
|
Tugu Selatan
Banjarwaru
|
Cisarua
Ciawi
|
20
20
|
10
10
|
|
2
|
Sapi Potong
|
Sinar Tani
Karya Mandiri
|
Singasari
Kuta Mekar
|
Jonggol
Cariu
|
30
30
|
10
10
|
|
3
|
Kerbau
|
Tunas Harapan
Sejahtera
|
Bagoang
Cikuda
|
Jasinga
Parung Panjang
|
10
10
|
10
10
|
|
4
|
Kambing PE
|
Arimba
|
Ciherang Pondoh
|
Caringin
|
50
|
10
|
|
5
|
Domba
|
Warga Saluyu
Bunga Mekar Wangi
Neglasari
Paguyuban Pecinta Setu
|
Malasari
Bojong jengkol
Pasir Tanjung
Cibinong
|
Nanggung
Ciampea
Tanjung Sari
Cibinong
|
50
50
50
50
|
10
10
10
10
|
|
6
|
Kelinci
|
Gerbang Desa
WATAK
Makmur Tani
Mawar Bodas
Poktan Karisma
|
Taman Sari
Gunung Malang
Batu Layang
Babakan
Rancabungur
|
Taman sari
Tenjolaya
Cisarua
Ciseeng
Rancabungur
|
960
|
|
|
7
|
Itik
|
Cabe Rawit
Mandiri
|
Kabasiran
Cikahuripan
|
Parung Panjang
Klapanunggal
|
500
500
|
10
10
|
|
8
|
Ayam Buras
|
Tanjung I
|
Taman sari
|
Taman sari
|
200
|
5
|
|
9
|
Puyuh
|
Bintang 3
|
Situ Ilir
|
Cibungbulang
|
800
|
10
|
|
Jumlah
|
205
|
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor 2009.
Data Realisasi Produksi Perikanan 2009
|
No
|
Jenis Ikan
|
Produksi (Ton)
|
Sasaran 2010
|
|
1.
|
KAT ( Kolam Air Tenang )
a. Ikan Mas
b. Ikan Nila
c. Ikan Nilem
d. Ikan Mujair
e. Ikan Gurame
f. Ikan Tawes
g. Ikan Patin
h. Ikan Lele
i. Ikan sepat Siam
j. Ikan Tambakan
k. Ikan Bawal
|
17,418.00
2,701.051
1298.68
2.93
29.21
1,854.82
272.17
565.13
9,738.17
2.43
48.50
909.91
|
Ikan Konsumsi
|
|
Jumlah
|
25,087.29
|
|
|
2
|
KAD ( Kolam Air Deras )
a. Ikan Mas
b. Ikan Nila
|
4,773.00
1,995.00
|
|
|
Jumlah
|
6,768.00
|
30.355,62
|
|
3
|
UPR ( Unit Pembenihan Rakyat )
a. Ikan Mas
b. Ikan Nila
c. Ikan Nilem
d. Ikan Mujair
e. Ikan Gurame
f. Ikan Tawes
g. Ikan Patin
h. Ikan Lele
i. Ikan sepat Siam
j. Ikan Tambakan
k. Ikan Bawal
|
166,502.000
109,580.000
397.000
2,181.000
92,282.000
9,459.000
79,893.000
244,634.000
488.000
6,051.000
33.133.000
|
|
|
Jumlah
|
744,600.00
|
900.966,00
|
|
4
|
Jaring Apung
a. Ikan Nila
b. Ikan Mas
|
87.00
156.00
|
|
|
Jumlah
|
243.00
|
|
|
Karamba
a. Ikan Mas
|
32.00
|
|
|
Jumlah
|
32.00
|
|
|
Ikan Hias
a. Ikan Corydoras
b. Ikan Cupang
c. Discus
d. Gupi
e. Ikan Koi
f. Ikan Tetra
g. Manvis
h. Mas koki
i. Oscar
j. Plati Padang
k. Rainbow
l. Boster
m. Lohan
n. Barbus
o. Black Ghost
p. Blue cherry
q. Blue Eye
r. Rochet
s. Ikan Hias Lainnya
|
5,070.000
5,910,000
2,120.000
9,299.000
3,174.000
13,385.000
4,230.000
6,754.000
2,192.000
4,810.000
3,540.000
4,142.000
1,260.000
3,792.000
5,070.000
2,072.000
2,438.000
2,526.000
2,193.000
|
|
|
Jumlah
|
84,517.000
|
89.664,00
|
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009 *)
Data Sebaran Pengembangan Perikanan Tahun 2010
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor 2009.
Luas dan Produksi Hutan Rakyat
|
No
|
Komoditas
|
Luas (Ha)
|
Produksi (m3)
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
|
Albasia
Mahoni
Afrika
Jati
Campuran
Bambu
|
3.406,95
3.730,50
1.522,02
528,07
2.191,47
3.966,64
|
15.585,09
1.672,24
3.578,42
10,85
1.760,49
1.984,75
|
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor 2009
III. TUJUAN PELAKSANAAN PENYULUHAN
3.1. Tujuan Umum
Dalam melaksanakan penyelenggaraan penyuluhan, tentunya harus diawali dengan penetapan tujuan umum yang sangat dibutuhkan guna menentukan arah penyelenggaraan penyuluhan agar dapat terjaga dengan baik fokus penyuluhan yang akan diterapkan, dengan tujuan umum sebagai berikut :
1. Tanaman Pangan
§ Meningkatkan produktivitas dan produksi pangan dan hortikultura melalui intensifikasi dan diversifikasi usaha tani
§ Meningkatkan kualitas sumber daya manusia petugas maupun petani
§ Meningkatkan fungsi institusi / kelembagaan pedesaan
§ Meningkatkan akses petani pada lembaga keuangan, informasi, sarana produksi serta pemasaran
§ Mensosialisasikan penganekaragaman pangan melalui diversifikasi pangan dan gizi
§ Menumbuhkan sentra-sentra produksi, informasi pasar dan kemitraan usaha.
§ Menumbuhkembangkan sentra komoditas unggulan
§ Menumbuh-kembangkan penangkar-penangkar benih.
2. Perkebunan / Kehutanan
§ Meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman perkebunan/kehutanan
§ Meningkatkan intensifikasi pekarangan dengan budidaya tanaman obat-obatan
§ Menumbuhkembangkan penangkar bibit tanaman perkebunan/kehutanan.
§ Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia petugas, pekebun, serta masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan
3. Peternakan dan Perikanan
§ Mendorong peningkatan kemampuan pengetahuan keterampilan dan sikap Peternak dan pembudidaya ikan dalam melaksanakan pengembangan usahanya
§ Mendorong tumbuh dan kembangnya kelompok peternak dan pembudidaya ikan dalam melaksanakan fungsi dan perannya
§ Mendorong dan memfasilitasi pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan penyuluhan bagi penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.
4. Dinamika Kelompok Tani
§ Meningkatkan kepemimpinan yang profesional di bidang usahanya dan dinamis dalam membina anggota dalam kelompok tani.
§ Meningkatkan pembinaan kelompok tani / pekebun tentang agribisnis / agroindustri atau pekerjaan lainnya yang diminati oleh masyarakat di pedesaan.
§ Meningkatkan keberdayaan dan kemandirian petani
§ Meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan petani, pekebun, serta masyarakat sekitar hutan, pembudidaya ikan.
§ Meningkatkan pembinaan terhadap tarunatani agar ikut serta mendukung pemerintah dalam mensukseskan pembangunan pertanian dan kehutanan yang berwawasan lingkungan.
§ Meningkatkan kemampuan petani / pekebun agar bisa akses ke lembaga keuangan atau sumber permodalan yang lain.
3.2. Tujuan Khusus
3.2.1. Tanaman Pangan dan Hortikultura
Dengan mengoptimalkan pemberdayaan keterlibatan secara aktif pelaku utama dan pelaku usaha sebagai mitra kerja, tujuan khusus yang dimiliki adalah sebagai berikut :
|
Indikator Sasaran
|
Satuan
|
Tahun 2009
|
Target Tahun 2010
|
|
Produksi :
Tanaman Pangan
|
|
|
|
|
1. Padi
|
Ton
|
492.742
|
515.158
|
|
2. Jagung
|
Ton
|
6.369
|
23.296
|
|
3. Kedelai
|
Ton
|
35
|
200
|
|
4. Kacang Tanah
|
Ton
|
1.337
|
2.394
|
|
5. Kacang Hijau
|
Ton
|
29
|
430
|
|
6. Ubi Kayu
|
Ton
|
140.106
|
189.056
|
|
7. Ubi Jalar
|
Ton
|
35.183
|
59.253
|
|
8. Talas
|
Ton
|
8.786
|
13.820
|
|
Tanaman Hortikultura
1. Wortel
|
Ton
|
4.213
|
4.315
|
|
2. Bawang daun
|
Ton
|
4.499
|
8.467
|
|
3. Ketimun
|
Ton
|
18.352
|
29.120
|
|
4. Kacang Panjang
|
Ton
|
14.340
|
15.863
|
|
5. Cabe
|
Ton
|
5.209
|
5.229
|
|
6. Durian
|
Kuintal
|
5.456
|
81.700
|
|
7. Rambutan
|
Kuintal
|
22.008
|
14.070
|
|
8. Manggis
|
Kuintal
|
2.116
|
3.500
|
|
9. Nanas
|
Kuintal
|
2.580
|
800
|
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Tahun 2009
3.2.2. Peternakan
Dengan mengoptimalkan pemberdayaan keterlibatan secara aktif pelaku utama dan pelaku usaha sebagai mitra kerja, tujuan khusus yang dimiliki adalah sebagai berikut :
|
Indikator Sasaran
|
Satuan
|
Tahun 2009
|
Target Tahun 2010
|
|
Produksi :
1. Daging
2. Telur
3. Susu
|
Kg
Kg
Liter
|
64.067.989
29.195.917,59
10.843,756,56
|
92.894.217
40.661.366
10.843.127
|
|
Konsumsi :
4. Konsumsi Hewani / asal ternak
|
Gr/kap/hr
|
4,72
|
4,86
|
|
Sentra agribisnis :
5. Peternakan
|
kelompok
|
7
|
10
|
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009
3.2.3. Perikanan
Dengan mengoptimalkan pemberdayaan keterlibatan secara aktif pelaku utama dan pelaku usaha sebagai mitra kerja, tujuan khusus yang dimiliki adalah sebagai berikut :
|
Indikator Sasaran
|
Satuan
|
Tahun 2009
|
Target Tahun 2010
|
|
Produksi :
1. Ikan Konsumsi
2. Ikan Hias
3. Benih Ikan
|
Ton
RE
RE
|
27.596.02
87.052.50
819.060.00
|
30.355,62
89.664,00
900.966,00
|
|
Konsumsi :
4. Konsumsi Ikan
|
Kg/Kap/Thn
|
19,75
|
20,34
|
|
Sentra Agribisnis:
5. Perikanan
|
Kelompok
|
15
|
20
|
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor tahun 2009
3.2.4. Kehutanan
Dengan mengoptimalkan pemberdayaan keterlibatan secara aktif pelaku utama dan pelaku usaha sebagai mitra kerja, tujuan khusus yang dimiliki adalah sebagai berikut :
1. Jamur Tiram
§ Petani memahami persiapan alat dan bahan dari 70% menjadi 75%
§ Petani mampu mempersiapkan media dari 65% menjadi 70%
§ Petani menerapkan sterilisasi dari 70% menjadi 75%
§ Petani menerapkan inokulasi dari 65% menjadi 70%
§ Petani menerapkan inkubasi dari 60% menjadi 65 %
§ Petani memahami pemeliharaan dari 60% menjadi 65%
2. Lebah Madu
§ Petani memahami pembuatan stup lebah dari 50% menjadi 55%
§ Petani mampu melakukan pengisian koloni dari 50% menjadi 55%
§ Petani menerapkan stndar pemeliharaan dari 55% menjadi 60%
§ Petani mampu melakukan proses pemanenan dari 65% menjadi 70%
3. Persemaian
§ Petani memahami pembuatan bedengan dari 65% menjadi 70%
§ Petani memahami pengisian polibag dari 65% menjadi 70%
§ Petani menerapkan pemilihan benih dari 75% menjadi 78%
§ Petani menerapkan perendaman dari 60% menjadi 65%
§ Petani menerapkan penyemaian dari 70% menjadi 75%
§ Petani menerapkan pemeliharaan dari 75% menjadi 78%
4. Hutan Rakyat / Kebun Rakyat
§ Meningkatkan pengairan / drainase sesuai dengan anjuran dari 50 % Menjadi 60%.
§ Meningkatkan pembuatan sesuai dengan anjuran dari 50 % Menjadi 60%.
§ Meningkatkan pemeliharan sesuai dengan anjuran dari 40 % Menjadi 50%.
3.2.5. Sosial Ekonomi
3.2.5.1. Sosial
Pada akhirnya, penyelenggaraan penyuluhan dimaksudkan guna mencapai perubahan pada sisi sosial pelaku utama dan pelaku usaha, sebagaimana terurai sebagai berikut :
a. Meningkatkan penerapan “pembagian tugas” dari 45 % menjadi 50%
b. Meningkatkan penerapan “kerjasama” dari 45 % menjadi 50 %
c. Meningkatkan penerapan “ketaatan dan kesepakatan” dari 50 % jadi 55 %
d. Meningkatkan penerapan “administrasi kelompok” dari 35 % menjadi 40 %
e. Meningkatkan penerapan “rencana kerja” dari 30 % menjadi 35 %
f. Meningkatkan penerapan “tempat pelayanan koperasi/TPK” dari 25 % menjadi 30 %
g. Meningkatkan penerapan “partisipasi wanita” di kelompok dari 55 % menjadi 60 %
h. Meningkatkan penerapan “partisipasi taruna tani” di kelompok dari 45 % menjadi 50 %
i. Meningkatkan penerapan “peningkatan produktifitas, pendapatan dan kesejahteraan petani” dari 60 % menjadi 65 %
3.2.5.2. Ekonomi
Pada akhirnya, penyelenggaraan penyuluhan dimaksudkan guna mencapai perubahan pada sisi ekonomi pelaku utama dan pelaku usaha, sebagaimana terurai sebagai berikut :
a. Meningkatkan penerapan “tabungan kelompok” dari 15 % menjadi 20 %
b. Meningkatkan penerapan “pengadaan fasilitas” dari 55 % menjadi 60 %
c. Meningkatkan penerapan “agribisnis” dari 55 % menjadi 60 %
d. Meningkatkan pemanfaatan jasa perbankan dari 20 % menjadi 25 %
e. Meningkatkan penerapan “koperasi” dari 15 % menjadi 20 %
f. Meningkatkan “kerjasama dengan pihak lain” dari 30 % jadi 35 %
IV. PERMASALAHAN
4.1. Permasalahan Teknis / Non Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan (PSK)
4.1.1. Tanaman Pangan dan Hortikultura
Tentunya seiring dengan berbagai upaya yang dilakukan dalam pelaksanaan, pembenahan sekaligus penyempurnaan pembinaan serta pendampingan pelaku utama dan pelaku usaha sebagai bagian dari penyelenggaraan penyuluhan, masih terdapat beberapa masalah yang terus berkembang mengikuti dinamika pengembangan usahanya dengan tetap menjadikannya sebagai sebuah tantangan yang harus dicarikan solusinya atau bahkan dapat dijadikan sebagai sebuah peluang pada sektor tanaman pangan dan hortikultura, sebagai berikut :
1. Padi Sawah
- 45 % petani belum menggunakan benih/bibit sesuai anjuran
- 50 % petani belum melaksanakan pengolahan tanah sesuai anjuran
- 50 % petani belum menggunakan jarak tanam sesuai anjuran
- 45 % petani belum melaksanakan pergiliran varietas sesuai anjuran
- 40 % petani belum melaksanakan pemupukan yang berimbang
- 50 % petani belum melaksanakan tata guna air sesuai anjuran
- 55 % petani belum menggunakan ZPT/PPC sesuai anjuran
- 55 % petani belum melaksanakan pengendalian hama terpadu sesuai
- 50 % petani belum melaksanakan waktu dan cara pemanenan yang sesuai anjuran
- 50 % petani belum melaksanakan pasca panen yang sesuai anjuran
2. Padi Gogo
- 50 % petani belum menggunakan benih/bibit sesuai anjuran
- 55 % petani belum melaksanakan pengolahan tanah sesuai anjuran
- 55 % petani belum menggunakan jarak tanam sesuai anjuran
- 50 % petani belum melaksanakan pergiliran varietas sesuai anjuran
- 45 % petani belum melaksanakan pemupukan yang berimbang
- 55% petani belum melaksanakan tata guna air sesuai anjuran
- 50 % petani belum menggunakan ZPT/PPC sesuai anjuran
- 55 % petani belum melaksanakan pengendalian hama terpadu sesuai
- 55 % petani belum melaksanakan waktu dan cara pemanenan yang sesuai anjuran
- 55 % petani belum melaksanakan pasca panen yang sesuai anjuran
3. Jagung
- 55 % petani belum menggunakan benih/bibit sesuai anjuran
- 60 % petani belum melaksanakan pengolahan tanah sesuai anjuran
- 50% petani belum menggunakan jarak tanam sesuai anjuran
- 45 % petani belum melaksanakan pergiliran varietas sesuai anjuran
- 55 % petani belum melaksanakan pemupukan yang berimbang
- 60 % petani belum melaksanakan tata guna air sesuai anjuran
- 45 % petani belum menggunakan ZPT/PPC sesuai anjuran
- 50 % petani belum melaksanakan pengendalian hama terpadu sesuai
- 55 % petani belum melaksanakan waktu dan cara pemanenan yang sesuai anjuran
- 50 % petani belum melaksanakan pasca panen yang sesuai anjuran
4. Kedelai
- 60 % petani belum menggunakan benih/bibit sesuai anjuran
- 60 % petani belum melaksanakan pengolahan tanah sesuai anjuran
- 50% petani belum menggunakan jarak tanam sesuai anjuran
- 40 % petani belum melaksanakan pergiliran varietas sesuai anjuran
- 45 % petani belum melaksanakan pemupukan yang berimbang
- 55 % petani belum melaksanakan tata guna air sesuai anjuran
- 60 % petani belum menggunakan ZPT/PPC sesuai anjuran
- 50 % petani belum melaksanakan pengendalian hama terpadu sesuai
- 55 % petani belum melaksanakan waktu dan cara pemanenan yang sesuai anjuran
- 50 % petani belum melaksanakan pasca panen yang sesuai anjuran
5. Kacang Tanah
- 50 % petani belum menggunakan benih/bibit sesuai anjuran
- 55 % petani belum melaksanakan pengolahan tanah sesuai anjuran
- 50% petani belum menggunakan jarak tanam sesuai anjuran
- 55 % petani belum melaksanakan pergiliran varietas sesuai anjuran
- 50 % petani belum melaksanakan pemupukan yang berimbang
- 55 % petani belum melaksanakan tata guna air sesuai anjuran
- 40 % petani belum menggunakan ZPT/PPC sesuai anjuran
- 45 % petani belum melaksanakan pengendalian hama terpadu sesuai
- 55 % petani belum melaksanakan waktu dan cara pemanenan yang sesuai anjuran
- 45% petani belum melaksanakan pasca panen yang sesuai anjuran
4.1.2. Peternakan
Tentunya seiring dengan berbagai upaya yang dilakukan dalam pelaksanaan, pembenahan sekaligus penyempurnaan pembinaan serta pendampingan pelaku utama dan pelaku usaha sebagai bagian dari penyelenggaraan penyuluhan, masih terdapat beberapa masalah yang terus berkembang mengikuti dinamika pengembangan usahanya dengan tetap menjadikannya sebagai sebuah tantangan yang harus dicarikan solusinya atau bahkan dapat dijadikan sebagai sebuah peluang pada sektor peternakan, sebagai berikut :
1. Sapi
- 45 % peternak belum mengetahui seleksi bibit unggul sesuai anjuran
- 50 % peternak belum mengetahui reproduksi yang baik sesuai anjuran
- 50 % peternak belum mengetahui alternative pakan ternak yang lain
- 45 % peternak belum mengetahui kontruksi kandang yang baik sesuai anjuran
- 40 % peternak belum mampu mengatasi penyakit pada ternak
- 50 % peternak belum mengetahui manajemen dan pemeliharaan ternak yang baik sesuai anjuran
- 55 % peternak belum mengetahui tentang penanganan pasca panen dan pemasarannya.
2. Kambing
- 50 % peternak belum mengetahui seleksi bibit unggul sesuai anjuran
- 65 % peternak belum mengetahui reproduksi yang baik sesuai anjuran
- 55 % peternak belum mengetahui alternative pakan ternak yang lain
- 50 % peternak belum mengetahui kontruksi kandang yang baik sesuai anjuran
- 45 % peternak belum mampu mengatasi penyakit pada ternak
- 55 % peternak belum mengetahui manajemen dan pemeliharaan ternak yang baik sesuai anjuran
- 50 % peternak belum mengetahui tentang penanganan pasca panen dan pemasarannya.
3. Domba
- 55 % peternak belum mengetahui seleksi bibit unggul sesuai anjuran
- 60 % peternak belum mengetahui reproduksi yang baik sesuai anjuran
- 50 % peternak belum mengetahui alternative pakan ternak yang lain
- 45 % peternak belum mengetahui kontruksi kandang yang baik sesuai anjuran
- 55 % peternak belum mampu mengatasi penyakit pada ternak
- 60 % peternak belum mengetahui manajemen dan pemeliharaan ternak yang baik sesuai anjuran
- 45 % peternak belum mengetahui tentang penanganan pasca panen dan pemasarannya.
4. Ayam
- 60 % peternak belum mengetahui seleksi bibit unggul sesuai anjuran
- 55 % peternak belum mengetahui reproduksi yang baik sesuai anjuran
- 50 % peternak belum mengetahui alternative pakan ternak yang lain
- 55% peternak belum mengetahui kontruksi kandang yang baik sesuai anjuran
- 50 % peternak belum mampu mengatasi penyakit pada ternak
- 55 % peternak belum mengetahui manajemen dan pemeliharaan ternak yang baik sesuai anjuran
- 50 % peternak belum mengetahui tentang penanganan pasca panen dan pemasarannya.
5. Itik
- 50 % peternak belum mengetahui seleksi bibit unggul sesuai anjuran
- 55 % peternak belum mengetahui reproduksi yang baik sesuai anjuran
- 50 % peternak belum mengetahui alternative pakan ternak yang lain
- 55 % peternak belum mengetahui kontruksi kandang yang baik sesuai anjuran
- 50 % peternak belum mampu mengatasi penyakit pada ternak
- 45 % peternak belum mengetahui manajemen dan pemeliharaan ternak yang baik sesuai anjuran
- 50 % peternak belum mengetahui tentang penanganan pasca panen dan pemasarannya.
4.1.3. Perikanan
Tentunya seiring dengan berbagai upaya yang dilakukan dalam pelaksanaan, pembenahan sekaligus penyempurnaan pembinaan serta pendampingan pelaku utama dan pelaku usaha sebagai bagian dari penyelenggaraan penyuluhan, masih terdapat beberapa masalah yang terus berkembang mengikuti dinamika pengembangan usahanya dengan tetap menjadikannya sebagai sebuah tantangan yang harus dicarikan solusinya atau bahkan dapat dijadikan sebagai sebuah peluang pada sektor perikanan, sebagai berikut :
1. Gurame
- 50 % pembudidaya ikan belum mampu mengatur kolam untuk kesinambungan ketersedian produksi ikan
- 55 % pembudidaya ikan belum mampu menyeleksi induk ikan yang baik sesuai anjuran
- 50 % pembudidaya ikan belum melakukan pemberian pakan sesuai anjuran
- 55 % pembudidaya ikan belum mengetahui kulitas air yang baik untuk ikan.
- 50 % pembudidaya ikan belum mampu mengatasi hama penyakit yang muncul pada ikan gurame
- 50 % pembudidaya ikan belum mengetahui tatacara panen yang baik
- 50 % pembudidaya ikan belum bisa melakukan diversifikasi pengolahan ikan
2. Nila
- 50 % pembudidaya ikan belum mampu mengatur kolam untuk kesinambungan ketersedian produksi ikan
- 50 % pembudidaya ikan belum mampu menyeleksi induk ikan yang baik sesuai anjuran
- 55 % pembudidaya ikan belum melakukan pemberian pakan sesuai anjuran
- 50 % pembudidaya ikan belum mengetahui kulitas air yang baik untuk ikan.
- 50 % pembudidaya ikan belum mampu mengatasi hama penyakit yang muncul pada ikan
- 50 % pembudidaya ikan belum mengetahui tatacara panen yang baik
- 50 % pembudidaya ikan belum bisa melakukan diversifikasi pengolahan ikan
3. Lele
- 55 % pembudidaya ikan belum mampu mengatur kolam untuk kesinambungan ketersedian produksi ikan
- 50 % pembudidaya ikan belum mampu menyeleksi induk ikan yang baik sesuai anjuran
- 50 % pembudidaya ikan belum melakukan pemberian pakan sesuai anjuran
- 55 % pembudidaya ikan belum mengetahui kulitas air yang baik untuk ikan.
- 55 % pembudidaya ikan belum mampu mengatasi hama penyakit yang muncul pada ikan
- 55 % pembudidaya ikan belum mengetahui tatacara panen yang baik
- 60 % pembudidaya ikan belum bisa melakukan diversifikasi pengolahan ikan
4. Patin
- 55 % pembudidaya ikan belum mampu mengatur kolam untuk kesinambungan ketersedian produksi ikan
- 50 % pembudidaya ikan belum mampu menyeleksi induk ikan yang baik sesuai anjuran
- 50 % pembudidaya ikan belum melakukan pemberian pakan sesuai anjuran
- 55 % pembudidaya ikan belum mengetahui kulitas air yang baik untuk ikan.
- 50 % pembudidaya ikan belum mampu mengatasi hama penyakit yang muncul pada ikan
- 50 % pembudidaya ikan belum mengetahui tatacara panen yang baik
- 60 % pembudidaya ikan belum bisa melakukan diversifikasi pengolahan ikan
5. Mas
- 50 % pembudidaya ikan belum mampu mengatur kolam untuk kesinambungan ketersedian produksi ikan
- 55 % pembudidaya ikan belum mampu menyeleksi induk ikan yang baik sesuai anjuran
- 55 % pembudidaya ikan belum melakukan pemberian pakan sesuai anjuran
- 50 % pembudidaya ikan belum mengetahui kulitas air yang baik
- 55 % pembudidaya ikan belum mampu mengatasi hama penyakit yang muncul pada ikan
- 50 % pembudidaya ikan belum mengetahui tatacara panen yang baik
- 60 % pembudidaya ikan belum bisa melakukan diversifikasi pengolahan ikan
6. Bawal
- 55 % pembudidaya ikan belum mampu mengatur kolam untuk kesinambungan ketersediaan produksi ikan
- 45 % pembudidaya ikan belum mampu menyeleksi induk ikan yang baik sesuai anjuran
- 50 % pembudidaya ikan belum melakukan pemberian pakan sesuai anjuran
- 55 % pembudidaya ikan belum mengetahui kualitas air yang baik untuk ikan.
- 55 % pembudidaya ikan belum mampu mengatasi hama penyakit yang muncul pada ikan
- 55 % pembudidaya ikan belum mengetahui tatacara panen yang baik
- 50 % pembudidaya ikan belum bisa melakukan diversifikasi pengolahan ikan
4.1.4. Kehutanan
Tentunya seiring dengan berbagai upaya yang dilakukan dalam pelaksanaan, pembenahan sekaligus penyempurnaan pembinaan serta pendampingan pelaku utama dan pelaku usaha sebagai bagian dari penyelenggaraan penyuluhan, masih terdapat beberapa masalah yang terus berkembang mengikuti dinamika pengembangan usahanya dengan tetap menjadikannya sebagai sebuah tantangan yang harus dicarikan solusinya atau bahkan dapat dijadikan sebagai sebuah peluang pada sektor kehutanan, sebagai berikut :
1. Jamur Tiram
- 60 % petani belum memahami dalam persiapan alat dan bahan yang sesuai
- 55 % petani belum memahami cara mempersiapkan media sesuai anjuran
- 60 % petani belum mampu melakukan strelisasi /pengukusan
- 55 % petani belum mampu melakukan inokulasi sendiri
- 46 % petani belum mampu melakukan inkubasi sendiri
- 50 % petani belum mampu melakukan pemeliharaan produksi yang berkesinambungan
2. Lebah Madu
- 50 % petani belum mampu dalam pembuatan stup lebah
- 50 % petani belum mampu melakukan pengisian koloni
- 55 % petani belum mampu melakukan pemeliharaan
- 65 % petani belum mampu melakukan panen madu
3. Pembuatan persemaian
- 55% petani belum mampu membuat bedengan
- 50 % petani belum melakukan pengisian polybag yang benar
- 50 % petani belum mampu melakukan pemilihan benih yang bagus
- 55 % petani belum mampu melakukan perendaman benih yang baik
- 55 % petani belum mampu melakukan penyemaian benih yang baik
- 55 % petani belum mampu pemeliharaan
4. Hutan Rakyat / Kebun Rakyat
- 50% petani belum mampu dalam pengairan yang baik
- 70 % petani belum dalam pembuatan hutan/kebun rakyat
- 65 % petani belum mampu melakukan penanaman yang sesuai anjuran
- 55 % petani belum mampu melakukan pemupukan sesuai anjuran
- 65 % petani belum mampu melakukan pemeliharaan tanaman
4.2. Permasalahan Non Teknis / Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan (PSK)
4.2.1. Sosial Ekonomi
4.2.1.1. Sosial
Disamping permasalahan teknis yang ditemui di wilayah binaan, muncul pula permasalahan-permasalahan lainnya yang bersifat non teknis pada sisi sosial yang tentunya akan sangat berpengaruh pula terhadap pengembangan usahanya jika tidak segera dilakukan penetapan solusi yang diiringi dengan aplikasinya, sebagai berikut :
a. 58 % anggota kelompok tani belum sadar dalam menghadiri pertemuan
b. 51 % pengurus kelompok tani belum memahami pembuatan administrasi pembukuan kelompok
c. 50 % pengurus kelompok tani belum memahami pembuatan rencana kerja kelompok / RDK / RUK
d. 50 % anggota kelompok tani belum memahami manfaat menabung
e. 45 % anggota tani masih lemah dalam informasi dan penerapan teknologi terkini
f. 65 % kelompok belum mampu mengelola dan memberdayakan kelembagaan tani dewasa, wanita dan taruna dengan memperhatikan komoditas baru
4.2.1.2. Ekonomi
Disamping permasalahan teknis yang ditemui di wilayah binaan, muncul pula permasalahan-permasalahan lainnya yang bersifat non teknis pada sisi ekonomi yang tentunya akan sangat berpengaruh pula terhadap pengembangan usahanya jika tidak segera dilakukan penetapan solusi yang diiringi dengan aplikasinya, sebagai berikut :
a. 64 % anggota kelompok tani belum melaksanakan pemupukan modal usaha tani dilakukan sesuai kebutuhan
b. 61 % anggota kelompok tani dalam pengadaan sarana produksi masih dilakukan sendiri-sendiri
c. 60 % anggota kelompok tani dalam penjualan hasil masih dilakukan secara sendiri-sendiri.
d. 40 % anggota kelompok tani dalam hubungan kelembagaan dengan pihak perbankan masih lemah
e. 60 % anggota kelompok tani masih belum menyadari manfaat usaha koperasi
f. 50 % anggota kelompok tani belum mampu membuat analisa usaha sendiri
Demikian Geografi Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Tahun 2010 ini disusun, untuk dapat dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan kinerja sekaligus sebagai bahan evaluasi penyelenggaraan penyuluhan selama satu tahun di bidang pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan, sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing di wilayah binaannya demi perwujudan masyarakat Kabupaten Bogor yang bertaqwa, berdaya dan berbudaya menuju sejahtera.