Menu Utama

Poling

Bagaimanakah kinerja penyuluh di Kabupaten Bogor?
 
Home Serba Serbi Artikel Geografi Kabupaten Bogor
Geografi Kabupaten Bogor PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Administrator   
Jumat, 12 November 2010 14:22

I.            PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang

Sektor pertanian, perikanan dan kehutanan secara langsung berperan penting dalam proses perekonomian masyarakat pertanian, perikanan dan kehutanan secara luas. Segala potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia serta kesiapan pendukung lainnya perlu dimanfaatkan dan dikelola sebaik-baiknya karena sektor diatas dapat menjadikan andalan pertumbuhan pembangunan ekonomi.

Kondisi keterpurukan ekonomi yang berubah pada sektor pertanian di perdesaan secara luas ini tidak bisa dibiarkan, perlunya suatu terobosan untuk mengangkat derajat perekonomian perdesaan di Kabupaten Bogor yang salah satunya dapat dilakukan melalui peningkatan aktivitas sekaligus pengembangan pertanian, perikanan dan kehutanan di wilayah perdesaan dan kawasan pertanian, perikanan dan kehutanan yang dianggap strategis yang memiliki potensi alam maupun potensi geografis.

Mencermati kondisi dan harapan diatas, saatnya kelembagaan penyuluhan  berkonsentrasi dan fokus terhadap pembangunan perdesaan melalui proses awal penyusunan Rencana Kerja Penyelenggaraan Penyuluhan, yang disusun dengan memperhatikan keterpaduan dan kesinergisan dengan rencana kerja penyelenggaraan penyuluhan di berbagai tingkatan, yang sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 (SP3K) Pasal 13.

Proses perencanaan penyelenggaraan penyuluhan merupakan unsur  pendukung suksesnya pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan di Kabupaten Bogor sekaligus sebagai alat pengendali yang strategis untuk dapat dioperasionalkan sebagai penggerak ekonomi perdesaan ke depan, yang menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang memberikan spread effect terhadap pengembangan wilayah di Kabupaten Bogor.

Program revitalisasi pertanian yang dijabarkan dalam bentuk revitalisasi penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan secara implementatif, masih menghadapi beberapa kendala terutama pada aspek sumberdaya manusia seperti keterbatasan lahan, keterbatasan modal, keterbatasan manajemen / teknologi yang disebabkan oleh rendahnya pengetahuan, perubahan sikap yang lambat, serta keterampilan yang kurang memadai, merupakan hal yang tercetus secara aspirasi dalam proses penggalian masalah petani selama ini.

Urgensinya penyelenggaraan penyuluhan adalah eksistensi dalam proses peningkatan pengetahuan, sikap yang mandiri dan keterampilan yang bertambah  pada sasaran / pelaku utama dan pelaku usaha adalah komponen penting, mengingat hal tersebut sangat signifikan dengan pembangunan ekonomi lokal seperti ketahanan pangan, kelestarian lingkungan dalam pembangunan perdesaan yang didukung dengan potensial seperti infrastruktur yang menjadikan kawasan ekonomi perdesaan sebagai pusat pertumbuhan pembangunan perdesaan di wilayah Kabupaten Bogor.

Mengingat bahwa penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan bersifat non formal dengan sasaran yang variatif dan heterogen, maka penyelenggaraan penyuluhan memerlukan model strategis aplikatif yang dikemas melalui metodologi yang tepat, media yang memadai dan teknis yang profesional dalam operasionalisasinya.  Oleh karena itu salah satu keberhasilan penyelenggaraan penyuluhan di Kabupaten Bogor akan sangat ditentukan oleh gerakan dinamisasi para penyuluh dalam mengaplikasikan dan memadukan metoda-media-teknis dalam menggerakannya.

1.2.     Tujuan Penyusunan

a.      Sebagai pedoman / acuan pihak penyelenggara penyuluhan

b.      Untuk meningkatkan fungsi dan peran penyuluhan melalui kesamaan pola, sikap dan gerak yang terencana, terarah dan terkendali.

c.      Tersusunnya alat / instrumen monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyuluhan serta pencapaian tujuan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan.

d.      Tersedianya fasilitasi bimbingan penyuluhan kepada sasaran (pelaku utama dan pelaku usaha)

 


II. KEADAAN UMUM WILAYAH BINAAN

2.1.    Deskripsi Umum

2.1.1.     Letak Wilayah

Secara geografis, Kabupaten Bogor adalah sebuah kabupaten di Propinsi Jawa Barat dengan Ibukota Cibinong yang terletak antara 6.190 – 6.470 Lintang Selatan dan 106.10 – 107.1030 Bujur Timur.

2.1.2.     Luas Wilayah

Kabupaten Bogor memiliki luas wilayah sebesar 2.237,09 Km2 dan merupakan salah satu wilayah administratif terluas (ke – 6) di Provinsi Jawa Barat.  Kabupaten Bogor terdiri dari 40 kecamatan dengan jumlah total desa / kelurahan paling banyak se – Provinsi Jawa Barat yaitu berjumlah 428 desa / kelurahan (200 desa / kelurahan termasuk dalam klasifikasi perkotaan sedangkan 228 desa lainnya berstatus perdesaan. Sumber : BPS Tahun 2008)

2.1.3.     Batas Wilayah

Pada posisi pemetaan, batas wilayah binaan dapat diuraikan sebagai berikut :

Barat          :    Berbatasan dengan Kabupaten Lebak – Provinsi Banten

Timur         :    Berbatasan dengan Kabupaten Lebak – Provinsi Banten

Timur Laut   :    Berbatasan dengan Kabupaten Kabupaten Bekasi

Barat Daya :    Berbatasan dengan Kabupaten Tanggerang (Provinsi Banten)

Utara          :    Berbatasan dengan Kota Depok

Selatan       :    Berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Sukabumi

Tenggara    :    Berbatasan dengan Kabupaten Cianjur

2.2.    Potensi Sumber Daya Alam

2.2.1.     Topografi

Klasifikasi dan deskripsi tanah di Kabupaten Bogor dapat diuraikan sebagai berikut :

a.      Tanah Alluvial

Terbentuk dari hasil sedimentasi erosi tanah dengan bahan Aluvial dan Koluvial, dari aneka macam asal tofografi datar sampai sedikit bergelombang di daerah dataran, cekungan dan daerah aliran sungai. Jenis ini terdapat di Kecamatan Gunung Putri.

b.      Tanah Podsolik

Ketebalan Solum antara 50 – 180 cm, dengan batasan horison yang nyata warna merah kuning dengan strukur lempung berpasir Osol hingga liat. Jenis tanah ini terdapat di kecamatan Cisarua, Cijeruk, Leuwiliang dan Nanggung.

c.      Tanah Andosol

Jenis tanah ini terdapat pada tofografi datar, bergelombang dan berbukit. Jenis ini terdapat di kecamatan Babakan Madang, Jonggol dan Cileungsi.

d.      Tanah Latosol

Ketebalan jenis tanah ini antara 130 – 500 mm, batas horizon jelas, warna merah, coklat sampai kuning, pH tanah 4.5 – 6.5 dengan tekstur tanah liat dan struktur renah, daya menahan air  cukup baik dan agak tahan menahan erosi.  Jenis tanah ini berada di Kecamatan Dramaga, Ciomas, Cibungbulang, Caringin, Cisarua, Megamendung, Sukaraja, Citereup, Gunung Putri, Rumpin, Cigudeg dan Parung Panjang.

Ketinggian tempat di Kabupaten Bogor berkisar dari 15 mdpl pada dataran di bagian utara hingga 2.500 mdpl pada puncak-puncak gunung di bagian selatan dengan monografi wilayah utara hingga selatan berturut-turut meliputi :

-          Dataran rendah (15 – 100 mdpl), sekitar 29,28% dari luas wilayah

-          Dataran bergelombang (100 – 150 mdpl), sekitar 46,62% dari luas wilayah.

-          Pegunungan (500 – 1.000 mdpl), sekitar 19,53%  dari luas wilayah.

-          Pegunungan tinggi (1.000 – 1.200 mdpl), sekitar 8.43% dari luas wilayah.

Secara umum wilayah Kabupaten Bogor mempunyai kemiringan relatif ke arah utara. Sungai-sungai mengalir dari daerah pian, pegunungan di bagian selatan ke arah utara yang meliputi 6 Daerah Aliran Sungai yaitu DAS Cidurian, Cimanceuri, Cisadane, Ciliwung, Bekasi dan Citarum (khususnya DAS Cipamingkis dan Cibeet). Dengan demikian wilayah Kabupaten Bogor merupakan wilayah hulu bagi wilayah-wilayah di sebelah utara (Tangerang, Depok, DKI Jakarta dan Bekasi).

Sungai-sungai pada masing-masing DAS tersebut mempunyai fungsi yang sangat strategis yaitu sebagai sumber air irigasi pertanian, perikanan, rumah tangga dan industri serta drainase utama wilayah. Selain itu, terdapat situ-situ yang berfungsi sebagai reservoar dalam peresapan air dan dapat juga dimanfaatkan usaha perikanan, penampungan air dan rekreasi.

2.2.2.     Curah Hujan

Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, iklim di Kabupaten Bogor termasuk tipe A (Sangat Basah) untuk bagian selatan sedangkan bagian barat termasuk tipe B (Basah). Suhu udara berkisar antara 200 – 300 C, sementara suhu rata-rata tahunan sekitar 250 C. Curah hujan tahunan berkisar           2.500 – 5.000 mm / tahun, kecuali sebagian kecil di bagian Utara yang berbatasan dengan Kabupaten Tangerang dan DKI Jakarta dengan Curah Hujan yang kurang dari 2.500 mm.

Sedangkan klasifikasi iklim berdasarkan data Stasiun Klimatologi dan Geofisika Dramaga, Kabupaten Bogor termasuk ke dalam :

1.      Iklim Basah, dengan curah hujan per tahun mencapai 2.500 mm atau lebih, antara lain meliputi Kecamatan Cisarua, Ciawi, Cijeruk, Caringin, Ciampea, Ciomas, Cibungbulang, Leuwiliang, Nanggung, Cigudeg, sebagian Jonggol dan Cariu.

2.      Iklim Sedang, dengan curah hujan per tahun antara 1.200 – 1.600 mm, meliputi Kecamatan Sukaraja, Kemang, Parung, Cibinong, Bojonggede, Rumpin bagian Selatan dan Citeureup.

3.      Iklim Kering, dengan curah hujan sekitar 1.200 mm per tahun, meliputi Kecamatan Tenjo, Rumpin, Parung Panjang, bagian Utara Gunung Putri dan Cileungsi.

2.2.3.     Klasifikasi dan Tata Guna Lahan

Tabel 1. Klasifikasi dan Tata Guna Lahan

Klasifikasi Jenis Lahan Menurut Tata Gunanya

No

Jenis Lahan

Luas ( Ha )

1.

Pertanian

a.      Lahan Sawah

b.      Lahan Bukan Sawah

48.888

110.264,36

2.

Perkebunan

a.      Perkebunan Besar Negara

b.      Perkebunan Besar Swasta

c.      Perkebunan Rakyat

5.129,15

4.128,35

14.102,20

3.

Kehutanan

a.      Hutan Negara

b.      Hutan Rakyat

79.436,75

15.345,65

4.

Hortikultura

a.  Sayuran

b.   Buah-buahan

c.   Tanaman HIas

d.   Biofarmaka

11.859

474.946 pohon

529.252

160,48

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Tahun 2009

Penggunaan Lahan Pertanian dan Kehutanan

No

Potensi

Luas ( Ha )

A.

Lahan Pertanian

1

Lahan Sawah

48.888

2

Lahan Bukan Sawah

110.264,36

- Tegal Kebun

56.277,00

- Ladang/Huma

10.671,00

- Penggembalaan/padang

1.510,00

- Sementara tidak diusahakan

710,00

- Perkebunan Besar Negara

5.219,15

- Perkebunan Besar Swasta

4.128,35

- Perkebunan Rakyat

14.102,20

- Ditanami pohon/Hutan Rakyat

15.345,66

- Kolam/Tebat/Empang

2.351,00

B.

Lahan Bukan Pertanian

140.837,64

1

Rumah Bangunan dan Halaman Sekitar

43.186,00

2

Hutan Negara

79.436,00

3

Rawa-rawa

153,00

4

Lainnya

18.061,89

JUMLAH

299.990

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Tahun 2009

Klasifikasi Jenis Usaha Peternakan dan Tata Gunanya

No

Jenis Lahan

Luas ( Ha )

1.

Peternakan

a.      Ternak Besar

  • Sapi Perah
  • Sapi Potong
  • Kerbau

b.      Ternak Kecil

  • Domba
  • Babi
  • Kambing
  • Kambing PE

c.      Ayam Petelur/Layer

d.      Ayam Pedaging/Broiler

e.      Ayam Kampung/Buras

f.       Kelinci

g.      Kuda

93,83

50,91

41,66

123,97

4,88

125,98

10,62

156

349,63

10,126

21,30

12,91

JUMLAH

1.006,916

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009

Klasifikasi Jenis Usaha Perikanan dan Tata Gunanya

No

Jenis Usaha

Luas ( Ha )

A.

B.

C.

D.

Budidaya Perikanan Air Tawar

a.      KAT ( Kolam Air Tenang )

b.      KAD ( Kolam Air Deras )

c.      Perikanan sawah

d.      Jaring Apung

e.      Karamba

Perikanan Tangkap Air Tawar / Perairan umum

Ikan Hias

Pembenihan

1,704.000

17.706

591.200

0,935

0,098

1,031.340

52.680

203.000

JUMLAH

3.599.927

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009

2.3.    Potensi Sumber Daya Manusia

Segenap proses penyelenggaraan penyuluhan tentunya tidak terlepas dari dukungan potensi sumberdaya manusia baik aparatur serta terutama pelaku utama dan pelaku usaha, sebagai salah satu unsur utama yang akan menentukan tingkat keberhasilan penyelenggaraan penyuluhan, yang diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan skala usaha tani beserta tingkat kesejahteraannya.

Berdasarkan Sensus Daerah (SUSDA) Tahun 2007, penduduk Kabupaten Bogor berjumlah 4.237.962 jiwa, dengan 43,7% (146.375 KK) dari total jumlah penduduknya tinggal di wilayah perdesaan, sedangkan 56,3% (150.982 KK) sisanya tinggal di perkotaan.

Tabel 2. Jumlah Penduduk Kabupaten Bogor Menurut Kecamatan

NO

KECAMATAN

JENIS KELAMIN

JUMLAH

LAKI – LAKI

PEREMPUAN

1

NANGGUNG

45.679

42.400

88.079

2

LEUWILIANG

57.448

53.718

111.166

3

LEUWISADENG

37.565

35.014

72.579

4

PAMIJAHAN

70.008

65.799

135.807

5

CIBUNGBULANG

63.290

59.059

122.349

6

CIAMPEA

71.913

67.225

139.138

7

TENJOLAYA

26.586

24.458

51.044

8

DRAMAGA

46.648

43.367

90.015

9

CIOMAS

65.714

62.874

128.588

10

TAMANSARI

42.557

39.353

81.910

11

CIJERUK

38.752

36.197

74.949

12

CIGOMBONG

42.724

40.267

82.991

13

CARINGIN

56.687

52.858

109.545

14

CIAWI

47.951

44.548

92.499

15

CISARUA

57.139

52.627

109.766

16

MEGAMENDUNG

47.552

43.514

91.066

17

SUKARAJA

78.048

73.822

151.870

18

BABAKAN MADANG

44.469

41.674

86.143

19

SUKAMAKMUR

38.417

35.775

74.192

20

CARIU

23.865

23.300

47.165

21

TANJUNG SARI

25.025

23.753

48.778

22

JONGGOL

57.626

55.096

112.722

23

CILEUNGSI

101.346

98.664

200.010

24

KLAPANUNGGAL

38.940

37.136

76.076

25

GUNUNG PUTRI

93.627

93.217

186.844

26

CITEUREUP

85.178

82.702

167.880

27

CIBINONG

126.666

124.029

250.695

28

BOJONGGEDE

105.485

100.083

205.568

29

TAJURHALANG

44.987

42.534

87.521

30

KEMANG

40.920

38.691

79.611

31

RANCABUNGUR

25.144

23.297

48.441

32

PARUNG

52.253

49.135

101.388

33

CISEENG

48.704

45.407

94.111

34

GUNUNG SINDUR

43.466

41.272

84.738

35

RUMPIN

64.765

59.861

124.626

36

CIGUDEG

58.503

54.282

112.785

37

SUKAJAYA

32.580

30.305

62.885

38

JASINGA

49.215

45.914

95.129

39

TENJO

33.014

30.806

63.820

40

PARUNG PANJANG

48.375

45.098

93.473

TOTAL

2.178.831

2.059.131

4.237.962

Sumber: www.kab.bogor.go.id

2.3.1.   Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

No

Ijasah Tertinggi

Yang dimiliki

Laki – Laki

Perempuan

Jumlah

1

Tidak Punya

396.464

540.688

937.152

2

SD / MI / Sederajat

561.563

522.682

1.084.245

3

SLTP / MTs / Sederajat

315.319

242.480

558.393

4

SLTA / MA / Sederajat

200.203

141.318

341.521

5

SM Kejuruan

98.548

60.627

159.175

6

Diploma I / II

8.769

9.727

18.496

7

Diploma III / Sarjana Muda

8.914

10.511

19.425

8

Diploma IV / S1

27.381

10.453

37.834

9

S2 / S3

2.381

3.252

5.633

JUMLAH

1.620.136

1.541.738

3.161.874

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor

2.3.2.   Jumlah Penduduk Tani Menurut Status

Tabel 4. Jumlah Penduduk Tani Menurut Status

No

Kecamatan

RT Pertanian (RTP)

RT Petani Gurem

1.

Tenjo

6.508

5.479

2.

Parungpanjang

2.370

2.068

3.

Jasinga

4.516

3.195

4.

Cigudeg

7.143

4.410

5.

Sukajaya

5.759

4.027

6.

Nanggung

9.023

7.194

7.

Rumpin

7.880

6.685

8.

Leuwiliang

13.703

11.509

9.

Cibungbulang

55.885

5.081

10.

Pamijahan

11.340

9.639

11.

Ciampea

10.434

9.092

12.

Gunung Sindur

3.569

3.248

13.

Parung

3.957

3.627

14.

Ciseeng

6.210

5.682

15.

Kemang

4.164

3.903

16.

Rancabungur

3.102

2.923

17.

Dramaga

4.282

3.894

18.

Ciomas

1.822

1.752

19.

Tamansari

3.733

3.445

20.

Caringin

6.163

5.468

21.

Cijeruk

10.361

9.354

22.

Ciawi

3.720

3.403

23.

Megamendung

4.042

3.651

24.

Cisarua

2.757

2.309

25.

Sukaraja

4.848

4.458

26.

Citeureup

4.561

4.827

27.

Babakan Madang

7.666

6.201

28.

Cibinong

5.327

4.827

29.

Bojonggede

6.284

5.726

30.

Gunung Putri

7.262

7.099

31.

Cileungsi

7.039

6.551

32.

Jonggol

11.744

8.995

33.

Sukamakmur

13.343

9.228

34.

Cariu

15.056

9.614

35.

Klapanunggal

4.468

3.823

JUMLAH

280.041

192.387

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan tahun 2009*)

2.3.3.   Jumlah Penduduk Peternak Menurut Usahanya

Tabel 5. Jumlah Penduduk Peternak Menurut Usahanya

No

Jenis Usaha

Jumlah RTP (orang)

1

2

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10

11

12

13

14

16

17

18

Sapi Perah

Kambing PE

Sapi potong

Ternak Kerbau

Ternak Domba

Kambing PE

Non Kambing PE

Ternak ayam Ras Pedaging

Ternak Ayam Ras Petelur

Ternak Ayam ras pembibit

Anjing

Kucing

Kera

Rusa

Angsa

Kuda

Kelinci

465

534

3.676

5.072

33.716

534

22.742

17.776

89.134

11

4967

13.749

13

177

25

84

1075

Jumlah

193.939

Sumber: Dinas peternakan dan perikanan tahun 2009*)

2.3.4.   Jumlah Penduduk Pembudidaya Ikan Menurut Usahanya

Tabel 6. Jumlah Penduduk Pembudidaya Ikan Menurut Usahanya

No

Jenis Usaha

Jumlah RTP (orang)

A.

B.

C. D.

Budidaya Perikanan Air Tawar

- KAT ( Kolam Air Tenang )

- KAD ( Kolam Air Deras )

- Perikanan sawah

- Jaring Apung

- Karamba

Perikanan Tangkap Air Tawar

- Perairan Umum

Ikan Hias

Pembenihan

6.595

475

2,178

195

158

1,380

716

1,256

Jumlah

8.144

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009

2.4.    Kelembagaan Pertanian / Peternakan / Perikanan / Kehutanan

Pada pelaksanaannya, proses penyelenggaraan penyuluhan ditentukan pula oleh kuantitas dan kualitas kelembagaan tani baik dalam hal proses pembentukannya yang wajib berawal dari inisiatif dan keinginan serta kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha, hingga pada tahap pendampingan dan pembinaannya yang dilakukan secara berkelanjutan dan berkesinambungan oleh aparatur penyuluhan.

Tabel 7. Jumlah Kelompok Berdasarkan Kelas Kemampuan

Kelas Kelompok

Jumlah Kelompok

Pemula

690

Lanjut

1.029

Madya

200

Utama

13

JUMLAH

1.932

Sumber :  Hasil Validasi Kelompok Tahun 2009

 

2.4.1.   Kelembagaan Tani

Tabel 8. Kelembagaan Tani

No

Kelompok Tani

Jumlah

( Kelompok )

1.

Kelompok Pengelola Hasil

32

2.

P4K

277

3.

Gapoktan

228

4

Koptan

33

5

Pelaku Usaha Tani Tanaman Obat

8

6

SPKP

1

7

Pengecer Kios Resmi PT. Pupuk Kujang

8

8

Pengecer Kios Resmi PT. Petro

3

9

Perusahaan UPJA Pertanian dan Kehutanan

22

10

Perusahaan penggilingan Padi

22

11

Kios sarana Produksi

39

12

Penangkar benih Padi dengan Palawija

51

Jumlah

723

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan kabupaten Bogor 2009

2.4.2.   Kelembagaan Peternak

Tabel 9. Kelembagaan Peternak

No

Kelompok Ternak / Kunak

Jumlah

(Kelompok)

1.

Tani ternak

78

2.

Kopnak

-         Giri Tani

-         Bintang resmi

-         KPS Bogor

3

3

Pengolahan Hasil ternak

-         Perusahaan

-         Usaha Rumah Tangga (Pangan)

-         Non Pangan

19

23

2

Jumlah

125

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bogor Tahun 2009

2.4.3.   Kelembagaan Pembudidaya Ikan

Tabel 10. Kelembagaan Pembudidaya Ikan

No

Jenis

Jumlah

1.

Pengolah hasil perikanan

35

2

Koperasi Perikanan

1

3

Himpunan Pembudidaya Ikan

5

4

Balai Benih Ikan

2

Jumlah

43

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bogor Tahun 2009

2.4.4.   Kelembagaan Kehutanan / Perkebunan Rakyat

Tabel 11. Kelembagaan Kehutanan / Perkebunan Rakyat

No

Kelompok Kehutanan

Jumlah (Kelompok)

1.

KUP (Kelompok Usaha Produktif)

4

2.

SPKP (Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan)

1

3.

PKSM (Penyuluhan Kehutanan Swadaya Masyarakat)

35 orang

4.

Penangkar Benih Buah-buahan dengan kayu-kayuan

52

5.

Perusahaan Penggergajian

16

6.

UPH

7

Jumlah

115

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Tahun 2009

2.4.5.   Lembaga Penunjang Usaha Tani / Peternak / Pembudidaya / Kehutanan

Tabel 12. Lembaga Penunjang Usaha Tani / Peternak / Pembudidaya / Kehutanan

Pusat Pelatihan Penyuluhan Pertanian Swakarsa (P4S)

No

Nama P4S

Pengelola

Lokasi

Jenis Usaha

1.

Antanan

Andi S

Ds. Cimande

Kec. Caringin

Kompos, salak pondoh

2.

Silih Asih

H. Zakaria

Ds. Ciburuy

Kec. Cijeruk

Padi sehat,

Ikan air tawar

3.

Mina Lestari

Munir

Ds. Cinagara

Kec. Caringin

Sayuran,

Kolam air deras

4.

Nusa Indah

Cucu Komalasari

Ds. Tamansari

Kec. Tamansari

Jamur Kayu,

Tanaman hias

5.

Melati

Siti Maryam

Ds. Cimulang

Kec. Rcbungur

Jamur Kayu,

Tanaman Toga

6.

Kaliwung Kalimuncar

Badri

Ds. Tugu Utara

Kec. Cisarua

Jamur kayu,

Kompos, bibit tan. kehutanan

7.

Kopses

Tohawi, SH

Ds. Cibeuteung Muara

Kec. Ciseeng

Ikan Gurame

8.

Bunga Wortel

H. Rahmat

Ds. Citeko

Kec. Cisarua

Sayuran dat. Tinggi, peternakan

9.

Kalicimandala

Yaman

Ds. Batulayang

Kec. Cisarua

Sayuran dat. Tinggi sehat

10.

Bina Sejahtera

Harun AR

Ds. Cileungsi

Kec. Ciawi

Sayuran, kelinci, ikan lele

11.

Darul Falah

Adih P

Kec. Ciampea

Tan. Hortikultura, kompos, kuljar

12.

Karya Mekar

Iis I.

Ds. Karacak

Kec. Leuwiliang

Manggis, ekologi tanah, kehilangan hasil

13.

Pandan Wangi

Zulfakar

Ds. Karehkel

Kec. Rumpin

Padi, P3A Mitra Cai

14.

Tepangsono

Ujang S

Ds. Cibatok II

Kec. Cb.bulang

Pepaya, pengolahan hasil

15.

Karya Terpadu

H. Danu

Ds. Sukamulya

Kec. Sukamakmur

Padi

16.

Karya Mandiri

Abdul Rohim

Kec. Cigudeg

SRI, opak hati batang pisang (OHB)

17.

Mitra Sejahtera

H. Jam

Ds. Cibatutiga

Kec. Jonggol

Padi/SDR

18.

Baraya

Cecep Haerudin

Kec. Pamijahan

Padi, lele

19.

Intan Walagri

Cecep Yosef

Kec. Pamijahan

Tan. Kehutanan

20

Jaya Sentosa

Nasrudin

Kec. Megamendung

Lele

Sumber : BP4K Kabupaten Bogor Tahun 2009

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Penerima Bantuan Langsung Masyarakat Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (BLM PUAP)

No

Nama Gapoktan

Lokasi

Jumlah (Rp)

Desa

Kecamatan

1.

Tani Maju

Tangkil

Caringin

100,000,000

2.

Bersaudara

Pasir Buncir

Caringin

100,000,000

3.

Suka Tani

Caringin

Caringin

100,000,000

4.

Dewi Sri

Ciburayut

Cigombong

100,000,000

5.

Sukagalih

Tugujaya

Cigombong

100,000,000

6.

Karya Mandiri

Ciasihan

Pamijahan

100,000,000

7.

Bina Usaha

Setudaun

Tenjolaya

100,000,000

8.

Sumber Rezeki

Bojongjengkol

Ciampea

100,000,000

9.

Harapan

Cihideung Udik

Ciampea

100,000,000

10.

Tani Berkah

Laladon

Ciomas

100,000,000

11.

Mandiri Jaya

Cikarawang

Dramaga

100,000,000

12.

Subur Makmur

Ciherang

Dramaga

100,000,000

13.

Harum Manis

Cirimekar

Cibinong

100,000,000

14.

Sukahati

Sukahati

Cibinong

100,000,000

15.

Karya Bersama

Pasirjambu

Sukaraja

100,000,000

16.

Maju Bersama

Cibatutiga

Cariu

100,000,000

17.

Silih Asih

Cikutamahi

Cariu

100,000,000

18.

Sari Alam

Babakan Raden

Cariu

100,000,000

19.

Rukun Tani

Citapen

Ciawi

100,000,000

20.

Bina Sejahtera

Cileungsi

Ciawi

100,000,000

21.

Makmur Jaya

Ciawi

Ciawi

100,000,000

22.

Karya Tani

Karacak

Leuwiliang

100,000,000

23.

Bersatu

Rawakalong

Gunungsindur

100,000,000

Jumlah

2,300,000,000

Sumber : BP4K Kabupaten Bogor Tahun 2009

Balai Benih Ikan (BBI) Di Kabupaten Bogor

No

Nama BBI

Lokasi

Luas Areal (Ha)

Jenis-jenis Ikan Yang dikembangkan

Produksi per Tahun (Ekor)

Kecamatan

Desa

1

BBI Cibitung

Tenjolaya

Cibitung Tengah

2,6

Mas, Lele, Tawes, Patin

3.640.000

2

BBI Cibening

Pamijahan

Cibening

2,4

Mas, Nila, Tawes

1.560.000

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009

2.5.    Teknologi yang Telah Diuji-Coba

Selain upaya perubahan PSK pelaku utama dan pelaku usaha, diperlukan pula diseminasi teknologi yang sesuai dengan karakteristik spesifik lokasi dominan usaha tani, yang tentunya berkaitan erat dengan kebutuhan teknologi pelaku utama akan jenis inovasi teknologi untuk diterapkan.

Tabel 13. Inovasi Teknologi yang Diterapkan

Tingkat Penerapan Teknologi (TPT) Pertanian

No

Komoditas

*Tingkat Penerapan Teknologi (%)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1

Padi

55

50

50

55

60

50

45

50

50

50

2

Padi Gogo

50

50

45

50

55

45

50

40

45

45

3

Jagung

45

40

50

55

45

40

55

50

45

50

4

Kedelai

40

40

50

60

55

45

45

50

45

50

5

Kacang Tanah

50

45

50

45

50

45

50

55

45

55

Sumber : BP4K Kabupaten Bogor Tahun 2009

Keterangan : * Unsur Teknologi

1. Benih/Bibit

2. Pengolahan Tanah

3. Jarak Tanam

4. Pergiliran varietas

5. Pemupukan

6. Tataguna Air

7. ZPT/PPC

8. Pengendalian Hama Terpadu

9. Panen

10. Pasca Panen

Tingkat Penerapan Teknologi (TPT) Peternakan

No

Komoditas

*Tingkat Penerapan Teknologi (%)

1

2

3

4

5

6

7

1

Sapi

55

50

50

55

60

50

45

2

Kambing

50

35

45

50

55

45

50

3

Domba

45

40

50

55

45

40

55

4

Ayam

40

40

50

60

55

45

35

5

Itik

50

45

50

45

50

45

50

Sumber : BP4K Kabupaten Bogor Tahun 2009

Keterangan : * Unsur Teknologi

1. Bibit

2. Reproduksi

3. Pakan

4. Kandang

5. Penyakit

6. Manajemen dan  Pemeliharaan

7. Pasca Panen dan pemasaran

Tingkat Penerapan Teknologi (TPT) Perikanan

No

Komoditas

*Tingkat Penerapan Teknologi (%)

1

2

3

4

5

6

7

1

Gurame

50

45

50

45

50

50

50

2

Nila

50

50

45

50

50

50

50

3

Lele

45

50

50

45

45

45

40

4

Patin

45

50

50

45

50

50

40

5

Mas

50

45

45

50

45

50

40

6

Bawal

45

55

50

45

45

45

50

Sumber : BP4K Kabupaten Bogor Tahun 2009

Keterangan : * Unsur Penerapan Teknologi

1. Pengaturan Kolam

2. Seleksi Induk/Benih

3. Pakan

4. Kualitas Air

5.Pengendalian Hama Penyakit

6. Panen

7. Pasca Panen

Tingkat Penerapan Teknologi (TPT) Kehutanan

No

Komoditas

*Tingkat Penerapan Teknologi (%)

1

2

3

4

5

6

1

Jamur Tiram

40

45

40

45

54

50

2

Lebah Madu

50

50

45

35

3

Pembuatan persemaian

45

50

50

45

45

45

4.

Hutan rakyat/kebun rakyat

50

30

35

45

35

Sumber : BP4K Kabupaten Bogor Tahun 2009

Keterangan : * Unsur Penerapan Teknologi pada Jamur Tiram

1. Persiapan alat dan bahan

2. Persiapan Media

3. Sterilisasi / pengukusan

4. Inokulasi

5. inkubasi

6. Pemeliharaan produksi

 

Keterangan : * Unsur Penerapan Teknologi pada lebah madu

1. Pembuatan stup lebah

2. Pengisian Koloni

3. Pemeliharaan

4. Panen Madu

Keterangan : * Unsur Penerapan Teknologi pada persemaian

1. Pembuatan Bedengan

2. Pengisian Polybag

3. Pemilihan Benih

4. Perendaman Benih

5. Penaburan Benih / Penyemaian

6. Pemeliharaan

Keterangan : * Unsur Penerapan Teknologi pada hutan/kebun rakyat

1. Pengairan

2. Pembuatan

3. Penanaman

4. Pemupukan

5. Pemeliharaan Tanaman

2.6.    Tingkat Pengelolaan Usaha Tani

Pengelolaan usaha tani sangatlah ditentukan dengan arah pendampingan dan pembinaan penyuluhan yang telah dan tengah dilakukan kaitannya dengan pengelolaan usaha tani, yang pada akhirnya berpengaruh pada sistem yang digunakan dalam pengelolaan usaha tani.

Tabel 14. Tingkat Pengelolaan Usaha Tani

Realisasi Produksi dan Produktivitas Padi, Palawija, Sayuran dan Buah-buahan

No

Komoditas

Produksi

Produktivitas

Sasaran (Ton)

Realisasi (Ton)

Sasaran

(Ku / Ha)

Realisasi

(Ku / Ha)

1.

Padi

a.      Padi Sawah

b.      Padi Gogo

504.817

10.431

485.104

7.638

61.78

31.71

63.01

28.50

Jumlah

515.248

492.742

2.

Palawija

a.      Jagung

b.      Kedelai

23.296

200

6.369

35

39,47

13.33

34.97

11,75

Jumlah

23.496

6.404

3.

Umbi – umbian

a.      Ubi Kayu

b.      Ubi Jalar

c.      Talas

189.056

59.253

13.820

140.106

35.183

8.786

219.66

145.39

145.47

188.52

134.83

141.01

Jumlah

262.129

183.975

4.

Kacang – Kacangan

a.      Kacang Tanah

b.      Kacang Hijau

2.934

430

1.337

29

13,87

10.78

12.66

10.22

Jumlah

3.364

1.366

5.

Sayur – sayuran

a.      Wortel

b.      Bawang Daun

c.      Ketimun

d.      Kacang Panjang

e.      Cabe

4.315

8.467

29.120

15.863

5.299

4.213

4.499

18.352

14.340

5.209

145,12

106,35

159.98

96.97

97.86

150,99

77,57

147,76

100,91

72,25

Jumlah

63.064

46.613

6.

Buah – buahan (Kg / Phn)

a.      Durian

b.      Rambutan

c.      Manggis

d.      Nenas

8.170

14.070

3.500

800

5.456

22.008

2.116

2.580

-

-

-

-

104,95

108,28

52,08

4,37

Jumlah

26.540

32.160

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Tahun 2009 *)

Sasaran Produksi Komoditas Unggulan Pertanian Tahun 2010

No

Komoditas

Luas Tanam

(Ha)

Luas Panen

(Ha)

Produksi (Ton)

1.

Padi Sawah

a.      Padi Sawah

b.      Padi Gogo

84.744

2.978

81.422

2.919

504.817

10.431

Jumlah

87.722

84.341

515.248

2.

Palawija

a.      Jagung

b.      Kedelai

7.870

250

5.903

150

23.296

200

Jumlah

8.120

6.053

23.496

3.

Umbi – umbian

a.      Ubi Kayu

b.      Ubi Jalar

c.      Talas

10.035

4.290

1.099

8.607

4.067

950

189.056

59.253

13.820

Jumlah

15.414

13.624

262.129

4.

Kacang – Kacangan

a.      Kacang Tanah

b.      Kacang Hijau

2.200

420

2.112

399

2.934

430

Jumlah

2.620

2.511

3.364

5.

Sayur – sayuran

a.      Bawang Daun

b.      Wortel

c.      Kacang Panjang

d.      Cabe

e.      Ketimun

838

313

1.722

570

1.916

796

297

1.636

542

1.820

8.467

4.315

15.863

5.299

29.120

Jumlah

5.359

5.091

63.064

Jumlah Pohon Menghasilkan

Produksi (Ton)

Produktivitas (Kg/pohon)

6.

Buah – buahan

a.      Durian

b.      Rambutan

c.      Manggis

d.      Nanas

51.986

203.242

40.631

590.113

54.456

22.008

2.116

2.580

10.495

10.828

5.208

437

Jumlah/Rata-rata

885.972

81.160

26.968

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Tahun 2009

 

Sasaran Produksi Komoditas Unggulan Perkebunan  Tahun 2010

No

Komoditas

Luas (Ha)

Produksi Bahan Mentah (Ton)

Produksi Olahan (Ton)

1.

Cengkeh

1.347,62

842,24

280,75

2.

Kopi

2.503,18

6.406,17

1.281,23

3.

Pala

765,40

542,16

135,54

4.

Kelapa

7.572,60

28.039,96

7.009,99

5.

Kelapa Hibrida

59,05

105,10

26,28

6.

Karet

851,72

2.592,33

518,47

7.

Aren

116,05

486,06

97,21

8.

Vanili

24,54

78,31

15,66

9.

Lada

27,99

172,89

34,58

10.

Kapolaga

37,70

62,02

12,40

11.

Teh

50,54

73,48

14,70

12.

Kayu Manis

19,00

-

-

13.

Melinjo

710,00

315,00

-

14.

Kakao

4,80

1,62

0,41

15.

Kemiri

12,00

16,20

5,40

JUMLAH

14.102,19

39.733,54

9.432,62

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Tahun 2009

 

Data Perkembangan Populasi Jenis Ternak

No

Jenis Ternak

Jumlah Populasi

(Ekor)

Luas lahan (Ha)

1

Sapi Potong

17.252

50.916,4

2

Sapi Perah

6.146

93.832,4

3

Kerbau

17,891

41.663,5

4

Kambing PE

4.103

100.627,4

5

Kambing Non PE

106,516

125.988,3

6

Domba

203,826

123.975,3

7

Ayam Ras Petelur

3,019.470

156

8

Ayam Ras Pedaging

11,588,274

349.632,8

9

Ayam Ras Pembibit

1,159.922

10,126

10

Itik

128,197

11

Puyuh

14,000

12

Aneka Ternak

-          Kuda

-          Kelinci

-          Kera

392

10,222

2,477

12.918,1

2.130,4

Jumlah

17.265.036

911.966,6

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009 *)

 

Data  Realisasi  Produksi Ternak 2009

No

Komoditas

Produksi (Kg)

1.

Ternak Besar

a.      Sapi

b.      Kerbau

4,805,711

170,461

Jumlah

4976172

2.

Ternak Kecil

a.      Kambing

b.      Domba

86,580

580,688

Jumlah

667268

3.

Unggas

Daging

a.      Ayam Ras

b.      Ayam Buras

c.      Itik

57,434,111

910,046

80,392

Jumlah

58.424.549

Jumlah (1+2+3)

64.067.989

Telur (Kg)

a.   Ayam Ras

b.   Ayam Buras

c.   Itik

27,753,790.65

602,920.11

839,206.83

Jumlah

29.195.917.59

4

Sapi Perah/susu (liter)

10,843,756.56

Jumlah

10,843,756.56

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor 2009

Lokasi Penyebaran Ternak Tahun 2010

No

Komoditas

Lokasi Penyebaran

Jumlah

Kelompok

Desa

Kecamatan

Ekor

KK

1

Sapi Perah

Tirta Kencana

Sejahtera

Tugu Selatan

Banjarwaru

Cisarua

Ciawi

20

20

10

10

2

Sapi Potong

Sinar Tani

Karya Mandiri

Singasari

Kuta Mekar

Jonggol

Cariu

30

30

10

10

3

Kerbau

Tunas Harapan

Sejahtera

Bagoang

Cikuda

Jasinga

Parung Panjang

10

10

10

10

4

Kambing PE

Arimba

Ciherang Pondoh

Caringin

50

10

5

Domba

Warga Saluyu

Bunga Mekar Wangi

Neglasari

Paguyuban Pecinta Setu

Malasari

Bojong jengkol

Pasir Tanjung

Cibinong

Nanggung

Ciampea

Tanjung Sari

Cibinong

50

50

50

50

10

10

10

10

6

Kelinci

Gerbang Desa

WATAK

Makmur Tani

Mawar Bodas

Poktan Karisma

Taman Sari

Gunung Malang

Batu Layang

Babakan

Rancabungur

Taman sari

Tenjolaya

Cisarua

Ciseeng

Rancabungur

960

7

Itik

Cabe Rawit

Mandiri

Kabasiran

Cikahuripan

Parung Panjang

Klapanunggal

500

500

10

10

8

Ayam Buras

Tanjung I

Taman sari

Taman sari

200

5

9

Puyuh

Bintang 3

Situ Ilir

Cibungbulang

800

10

Jumlah

205

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor 2009.

Data Realisasi  Produksi  Perikanan 2009

No

Jenis Ikan

Produksi (Ton)

Sasaran 2010

1.

KAT ( Kolam Air Tenang )

a.      Ikan Mas

b.      Ikan Nila

c.      Ikan Nilem

d.      Ikan Mujair

e.      Ikan Gurame

f.       Ikan Tawes

g.      Ikan Patin

h.      Ikan Lele

i.         Ikan sepat Siam

j.        Ikan Tambakan

k.      Ikan Bawal

17,418.00

2,701.051

1298.68

2.93

29.21

1,854.82

272.17

565.13

9,738.17

2.43

48.50

909.91

Ikan Konsumsi

Jumlah

25,087.29

2

KAD ( Kolam Air Deras )

a.      Ikan Mas

b.      Ikan Nila

4,773.00

1,995.00

Jumlah

6,768.00

30.355,62

3

UPR ( Unit Pembenihan Rakyat )

a.      Ikan Mas

b.      Ikan Nila

c.      Ikan Nilem

d.      Ikan Mujair

e.      Ikan Gurame

f.       Ikan Tawes

g.      Ikan Patin

h.      Ikan Lele

i.         Ikan sepat Siam

j.        Ikan Tambakan

k.      Ikan Bawal

166,502.000

109,580.000

397.000

2,181.000

92,282.000

9,459.000

79,893.000

244,634.000

488.000

6,051.000

33.133.000

Jumlah

744,600.00

900.966,00

4

Jaring Apung

a.      Ikan Nila

b.      Ikan Mas

87.00

156.00

Jumlah

243.00

Karamba

a.      Ikan Mas

32.00

Jumlah

32.00

Ikan Hias

a.      Ikan Corydoras

b.      Ikan Cupang

c.      Discus

d.      Gupi

e.      Ikan Koi

f.       Ikan Tetra

g.      Manvis

h.      Mas koki

i.         Oscar

j.        Plati Padang

k.      Rainbow

l.         Boster

m.   Lohan

n.      Barbus

o.      Black Ghost

p.      Blue cherry

q.      Blue Eye

r.       Rochet

s.      Ikan Hias Lainnya

5,070.000

5,910,000

2,120.000

9,299.000

3,174.000

13,385.000

4,230.000

6,754.000

2,192.000

4,810.000

3,540.000

4,142.000

1,260.000

3,792.000

5,070.000

2,072.000

2,438.000

2,526.000

2,193.000

Jumlah

84,517.000

89.664,00

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009 *)

Data Sebaran Pengembangan Perikanan Tahun 2010




Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor 2009.

Luas dan Produksi Hutan Rakyat

No

Komoditas

Luas (Ha)

Produksi (m3)

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Albasia

Mahoni

Afrika

Jati

Campuran

Bambu

3.406,95

3.730,50

1.522,02

528,07

2.191,47

3.966,64

15.585,09

1.672,24

3.578,42

10,85

1.760,49

1.984,75

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor 2009

III. TUJUAN PELAKSANAAN PENYULUHAN

3.1.    Tujuan Umum

Dalam melaksanakan penyelenggaraan penyuluhan, tentunya harus diawali dengan penetapan tujuan umum yang sangat dibutuhkan guna menentukan arah penyelenggaraan penyuluhan agar dapat terjaga dengan baik fokus penyuluhan yang akan diterapkan, dengan tujuan umum sebagai berikut :

1.      Tanaman Pangan

§         Meningkatkan produktivitas dan produksi pangan dan hortikultura melalui intensifikasi dan diversifikasi usaha tani

§         Meningkatkan kualitas sumber daya manusia petugas maupun petani

§         Meningkatkan fungsi institusi / kelembagaan pedesaan

§         Meningkatkan akses petani pada lembaga keuangan, informasi, sarana produksi serta pemasaran

§         Mensosialisasikan penganekaragaman pangan melalui diversifikasi pangan dan gizi

§         Menumbuhkan sentra-sentra produksi, informasi pasar dan kemitraan usaha.

§         Menumbuhkembangkan sentra komoditas unggulan

§         Menumbuh-kembangkan penangkar-penangkar benih.

2.      Perkebunan / Kehutanan

§         Meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman perkebunan/kehutanan

§         Meningkatkan intensifikasi pekarangan dengan budidaya tanaman obat-obatan

§         Menumbuhkembangkan penangkar bibit tanaman perkebunan/kehutanan.

§         Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia petugas,  pekebun, serta masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan  

3.      Peternakan dan Perikanan

§         Mendorong peningkatan kemampuan pengetahuan keterampilan dan sikap Peternak dan pembudidaya ikan dalam melaksanakan pengembangan usahanya

§         Mendorong tumbuh dan kembangnya kelompok peternak dan pembudidaya ikan dalam melaksanakan fungsi dan perannya

§         Mendorong dan memfasilitasi pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan penyuluhan bagi penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.

4.      Dinamika Kelompok Tani

§         Meningkatkan kepemimpinan yang profesional di bidang usahanya dan dinamis dalam membina anggota dalam kelompok tani.

§         Meningkatkan pembinaan kelompok tani / pekebun tentang agribisnis / agroindustri atau pekerjaan lainnya yang diminati oleh masyarakat di pedesaan.

§         Meningkatkan keberdayaan dan kemandirian petani

§         Meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan petani, pekebun, serta masyarakat sekitar hutan, pembudidaya ikan.

§         Meningkatkan pembinaan terhadap tarunatani agar ikut serta mendukung pemerintah dalam mensukseskan pembangunan pertanian dan kehutanan yang berwawasan lingkungan.

§         Meningkatkan kemampuan petani / pekebun agar bisa akses ke lembaga keuangan atau sumber permodalan yang lain.

3.2.    Tujuan Khusus

3.2.1.   Tanaman Pangan dan Hortikultura

Dengan mengoptimalkan pemberdayaan keterlibatan secara aktif pelaku utama dan pelaku usaha sebagai mitra kerja, tujuan khusus yang dimiliki adalah sebagai berikut :

Indikator Sasaran

Satuan

Tahun 2009

Target Tahun 2010

Produksi :

Tanaman Pangan

1. Padi

Ton

492.742

515.158

2. Jagung

Ton

6.369

23.296

3. Kedelai

Ton

35

200

4. Kacang Tanah

Ton

1.337

2.394

5. Kacang Hijau

Ton

29

430

6. Ubi Kayu

Ton

140.106

189.056

7. Ubi Jalar

Ton

35.183

59.253

8. Talas

Ton

8.786

13.820

Tanaman Hortikultura

1.  Wortel

Ton

4.213

4.315

2.  Bawang daun

Ton

4.499

8.467

3.  Ketimun

Ton

18.352

29.120

4.  Kacang Panjang

Ton

14.340

15.863

5.  Cabe

Ton

5.209

5.229

6.  Durian

Kuintal

5.456

81.700

7.  Rambutan

Kuintal

22.008

14.070

8.  Manggis

Kuintal

2.116

3.500

9.  Nanas

Kuintal

2.580

800

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Tahun 2009

3.2.2.   Peternakan

Dengan mengoptimalkan pemberdayaan keterlibatan secara aktif pelaku utama dan pelaku usaha sebagai mitra kerja, tujuan khusus yang dimiliki adalah sebagai berikut :

Indikator Sasaran

Satuan

Tahun 2009

Target Tahun 2010

Produksi :

1. Daging

2. Telur

3. Susu

Kg

Kg

Liter

64.067.989

29.195.917,59

10.843,756,56

92.894.217

40.661.366

10.843.127

Konsumsi :

4. Konsumsi Hewani / asal ternak

Gr/kap/hr

4,72

4,86

Sentra agribisnis :

5. Peternakan

kelompok

7

10

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Tahun 2009

3.2.3.   Perikanan

Dengan mengoptimalkan pemberdayaan keterlibatan secara aktif pelaku utama dan pelaku usaha sebagai mitra kerja, tujuan khusus yang dimiliki adalah sebagai berikut :

Indikator Sasaran

Satuan

Tahun 2009

Target Tahun 2010

Produksi :

1. Ikan Konsumsi

2. Ikan Hias

3. Benih Ikan

Ton

RE

RE

27.596.02

87.052.50

819.060.00

30.355,62

89.664,00

900.966,00

Konsumsi :

4. Konsumsi Ikan

Kg/Kap/Thn

19,75

20,34

Sentra Agribisnis:

5. Perikanan

Kelompok

15

20

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor tahun 2009

3.2.4.   Kehutanan

Dengan mengoptimalkan pemberdayaan keterlibatan secara aktif pelaku utama dan pelaku usaha sebagai mitra kerja, tujuan khusus yang dimiliki adalah sebagai berikut :

1.      Jamur Tiram

§         Petani memahami persiapan alat dan bahan dari 70% menjadi 75%

§         Petani mampu mempersiapkan media dari 65% menjadi 70%

§         Petani menerapkan sterilisasi dari 70% menjadi 75%

§         Petani menerapkan inokulasi dari 65% menjadi 70%

§         Petani menerapkan inkubasi dari 60% menjadi 65 %

§         Petani memahami pemeliharaan dari 60% menjadi 65%

2.      Lebah Madu

§         Petani memahami pembuatan stup lebah dari 50% menjadi 55%

§         Petani mampu melakukan pengisian koloni dari 50% menjadi 55%

§         Petani menerapkan stndar pemeliharaan dari 55% menjadi 60%

§         Petani mampu melakukan proses pemanenan dari 65% menjadi 70%

3.      Persemaian

§         Petani memahami pembuatan bedengan dari 65% menjadi 70%

§         Petani memahami pengisian polibag dari 65% menjadi 70%

§         Petani menerapkan pemilihan benih dari 75% menjadi 78%

§         Petani menerapkan perendaman dari 60% menjadi 65%

§         Petani menerapkan penyemaian dari 70% menjadi 75%

§         Petani menerapkan pemeliharaan dari 75% menjadi 78%

4.      Hutan Rakyat / Kebun Rakyat

§         Meningkatkan pengairan / drainase  sesuai dengan anjuran dari 50 % Menjadi 60%.

§         Meningkatkan pembuatan  sesuai dengan anjuran dari 50 % Menjadi 60%.

§         Meningkatkan pemeliharan sesuai dengan anjuran dari 40 % Menjadi 50%.

3.2.5.   Sosial Ekonomi

3.2.5.1.  Sosial

Pada akhirnya, penyelenggaraan penyuluhan dimaksudkan guna mencapai perubahan pada sisi sosial pelaku utama dan pelaku usaha, sebagaimana terurai sebagai berikut :

a.      Meningkatkan penerapan “pembagian tugas” dari 45 % menjadi   50%

b.      Meningkatkan penerapan “kerjasama” dari 45 % menjadi 50 %

c.      Meningkatkan penerapan “ketaatan dan kesepakatan” dari 50 % jadi 55 %

d.      Meningkatkan penerapan “administrasi kelompok” dari 35 % menjadi 40 %

e.      Meningkatkan penerapan “rencana kerja” dari 30 % menjadi 35 %

f.       Meningkatkan penerapan “tempat pelayanan koperasi/TPK” dari  25 % menjadi 30 %

g.      Meningkatkan penerapan “partisipasi wanita” di kelompok dari    55 % menjadi 60 %

h.      Meningkatkan penerapan “partisipasi taruna tani” di kelompok dari 45 % menjadi 50 %

i.         Meningkatkan penerapan “peningkatan produktifitas, pendapatan dan kesejahteraan petani” dari 60 % menjadi 65 %

3.2.5.2.  Ekonomi

Pada akhirnya, penyelenggaraan penyuluhan dimaksudkan guna mencapai perubahan pada sisi ekonomi pelaku utama dan pelaku usaha, sebagaimana terurai sebagai berikut :

a.      Meningkatkan penerapan “tabungan kelompok” dari 15 % menjadi 20 %

b.      Meningkatkan penerapan “pengadaan fasilitas” dari 55 % menjadi 60 %

c.      Meningkatkan penerapan “agribisnis” dari 55 % menjadi 60 %

d.      Meningkatkan pemanfaatan jasa perbankan  dari 20 % menjadi   25 %

e.      Meningkatkan penerapan “koperasi” dari 15 % menjadi 20 %

f.       Meningkatkan “kerjasama dengan pihak lain” dari 30 % jadi     35 %

IV. PERMASALAHAN

4.1.    Permasalahan Teknis / Non Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan (PSK)

4.1.1.   Tanaman Pangan dan Hortikultura

Tentunya seiring dengan berbagai upaya yang dilakukan dalam pelaksanaan, pembenahan sekaligus penyempurnaan pembinaan serta pendampingan pelaku utama dan pelaku usaha sebagai bagian dari penyelenggaraan penyuluhan, masih terdapat beberapa masalah yang terus berkembang mengikuti dinamika pengembangan usahanya dengan tetap menjadikannya sebagai sebuah tantangan yang harus dicarikan solusinya atau bahkan dapat dijadikan sebagai sebuah peluang pada sektor tanaman pangan dan hortikultura, sebagai berikut :

1.      Padi Sawah

  • 45 % petani belum menggunakan benih/bibit sesuai anjuran
  • 50 % petani belum melaksanakan pengolahan tanah sesuai anjuran
  • 50 % petani belum menggunakan jarak tanam sesuai anjuran
  • 45 % petani belum melaksanakan pergiliran varietas sesuai anjuran
  • 40 % petani belum melaksanakan pemupukan yang berimbang
  • 50 % petani belum melaksanakan tata guna air sesuai anjuran
  • 55 % petani belum menggunakan ZPT/PPC sesuai anjuran
  • 55 % petani belum melaksanakan pengendalian hama terpadu sesuai
  • 50 % petani belum melaksanakan waktu dan cara pemanenan yang sesuai anjuran
  • 50 % petani belum melaksanakan pasca panen yang sesuai anjuran

2.      Padi Gogo

  • 50 % petani belum menggunakan benih/bibit sesuai anjuran
  • 55 % petani belum melaksanakan pengolahan tanah sesuai anjuran
  • 55 % petani belum menggunakan jarak tanam sesuai anjuran
  • 50 % petani belum melaksanakan pergiliran varietas sesuai anjuran
  • 45 % petani belum melaksanakan pemupukan yang berimbang
  • 55% petani belum melaksanakan tata guna air sesuai anjuran
  • 50 % petani belum menggunakan ZPT/PPC sesuai anjuran
  • 55 % petani belum melaksanakan pengendalian hama terpadu sesuai
  • 55 % petani belum melaksanakan waktu dan cara pemanenan yang sesuai anjuran
  • 55 % petani belum melaksanakan pasca panen yang sesuai anjuran

3.      Jagung

  • 55 % petani belum menggunakan benih/bibit sesuai anjuran
  • 60 % petani belum melaksanakan pengolahan tanah sesuai anjuran
  • 50% petani belum menggunakan jarak tanam sesuai anjuran
  • 45 % petani belum melaksanakan pergiliran varietas sesuai anjuran
  • 55 % petani belum melaksanakan pemupukan yang berimbang
  • 60 % petani belum melaksanakan tata guna air sesuai anjuran
  • 45 % petani belum menggunakan ZPT/PPC sesuai anjuran
  • 50 % petani belum melaksanakan pengendalian hama terpadu sesuai
  • 55 % petani belum melaksanakan waktu dan cara pemanenan yang sesuai anjuran
  • 50 % petani belum melaksanakan pasca panen yang sesuai anjuran

4.      Kedelai

  • 60 % petani belum menggunakan benih/bibit sesuai anjuran
  • 60 % petani belum melaksanakan pengolahan tanah sesuai anjuran
  • 50% petani belum menggunakan jarak tanam sesuai anjuran
  • 40 % petani belum melaksanakan pergiliran varietas sesuai anjuran
  • 45 % petani belum melaksanakan pemupukan yang berimbang
  • 55 % petani belum melaksanakan tata guna air sesuai anjuran
  • 60 % petani belum menggunakan ZPT/PPC sesuai anjuran
  • 50 % petani belum melaksanakan pengendalian hama terpadu sesuai
  • 55 % petani belum melaksanakan waktu dan cara pemanenan yang sesuai anjuran
  • 50 % petani belum melaksanakan pasca panen yang sesuai anjuran

5.      Kacang Tanah

  • 50 % petani belum menggunakan benih/bibit sesuai anjuran
  • 55 % petani belum melaksanakan pengolahan tanah sesuai anjuran
  • 50% petani belum menggunakan jarak tanam sesuai anjuran
  • 55 % petani belum melaksanakan pergiliran varietas sesuai anjuran
  • 50 % petani belum melaksanakan pemupukan yang berimbang
  • 55 % petani belum melaksanakan tata guna air sesuai anjuran
  • 40 % petani belum menggunakan ZPT/PPC sesuai anjuran
  • 45 % petani belum melaksanakan pengendalian hama terpadu sesuai
  • 55 % petani belum melaksanakan waktu dan cara pemanenan yang sesuai anjuran
  • 45% petani belum melaksanakan pasca panen yang sesuai anjuran

4.1.2.   Peternakan

Tentunya seiring dengan berbagai upaya yang dilakukan dalam pelaksanaan, pembenahan sekaligus penyempurnaan pembinaan serta pendampingan pelaku utama dan pelaku usaha sebagai bagian dari penyelenggaraan penyuluhan, masih terdapat beberapa masalah yang terus berkembang mengikuti dinamika pengembangan usahanya dengan tetap menjadikannya sebagai sebuah tantangan yang harus dicarikan solusinya atau bahkan dapat dijadikan sebagai sebuah peluang pada sektor peternakan, sebagai berikut :

1.      Sapi

  • 45 % peternak belum mengetahui seleksi bibit unggul sesuai anjuran
  • 50 % peternak belum mengetahui reproduksi yang baik sesuai anjuran
  • 50 % peternak belum mengetahui alternative pakan ternak yang lain
  • 45 % peternak belum mengetahui kontruksi kandang yang baik sesuai anjuran
  • 40 % peternak belum mampu mengatasi penyakit pada ternak
  • 50 % peternak belum mengetahui manajemen dan pemeliharaan ternak yang baik sesuai anjuran
  • 55 % peternak belum mengetahui tentang penanganan pasca panen dan pemasarannya.

2.      Kambing

  • 50 % peternak belum mengetahui seleksi bibit unggul sesuai anjuran
  • 65 % peternak belum mengetahui reproduksi yang baik sesuai anjuran
  • 55 % peternak belum mengetahui alternative pakan ternak yang lain
  • 50 % peternak belum mengetahui kontruksi kandang yang baik sesuai anjuran
  • 45 % peternak belum mampu mengatasi penyakit pada ternak
  • 55 % peternak belum mengetahui manajemen dan pemeliharaan ternak yang baik sesuai anjuran
  • 50 % peternak belum mengetahui tentang penanganan pasca panen dan pemasarannya.

3.      Domba

  • 55 % peternak belum mengetahui seleksi bibit unggul sesuai anjuran
  • 60 % peternak belum mengetahui reproduksi yang baik sesuai anjuran
  • 50 % peternak belum mengetahui alternative pakan ternak yang lain
  • 45 % peternak belum mengetahui kontruksi kandang yang baik sesuai anjuran
  • 55 % peternak belum mampu mengatasi penyakit pada ternak
  • 60 % peternak belum mengetahui manajemen dan pemeliharaan ternak yang baik sesuai anjuran
  • 45 % peternak belum mengetahui tentang penanganan pasca panen dan pemasarannya.

4.      Ayam

  • 60 % peternak belum mengetahui seleksi bibit unggul sesuai anjuran
  • 55 % peternak belum mengetahui reproduksi yang baik sesuai anjuran
  • 50 % peternak belum mengetahui alternative pakan ternak yang lain
  • 55% peternak belum mengetahui kontruksi kandang yang baik sesuai anjuran
  • 50 % peternak belum mampu mengatasi penyakit pada ternak
  • 55 % peternak belum mengetahui manajemen dan pemeliharaan ternak yang baik sesuai anjuran
  • 50 % peternak belum mengetahui tentang penanganan pasca panen dan pemasarannya.

5.      Itik

  • 50 % peternak belum mengetahui seleksi bibit unggul sesuai anjuran
  • 55 % peternak belum mengetahui reproduksi yang baik sesuai anjuran
  • 50 % peternak belum mengetahui alternative pakan ternak yang lain
  • 55 % peternak belum mengetahui kontruksi kandang yang baik sesuai anjuran
  • 50 % peternak belum mampu mengatasi penyakit pada ternak
  • 45 % peternak belum mengetahui manajemen dan pemeliharaan ternak yang baik sesuai anjuran
  • 50 % peternak belum mengetahui tentang penanganan pasca panen dan pemasarannya.

4.1.3.   Perikanan

Tentunya seiring dengan berbagai upaya yang dilakukan dalam pelaksanaan, pembenahan sekaligus penyempurnaan pembinaan serta pendampingan pelaku utama dan pelaku usaha sebagai bagian dari penyelenggaraan penyuluhan, masih terdapat beberapa masalah yang terus berkembang mengikuti dinamika pengembangan usahanya dengan tetap menjadikannya sebagai sebuah tantangan yang harus dicarikan solusinya atau bahkan dapat dijadikan sebagai sebuah peluang pada sektor perikanan, sebagai berikut :

1.      Gurame

  • 50 % pembudidaya ikan belum mampu mengatur kolam untuk kesinambungan ketersedian produksi ikan
  • 55 % pembudidaya ikan belum mampu menyeleksi induk ikan yang baik sesuai anjuran
  • 50 % pembudidaya ikan belum melakukan pemberian pakan sesuai anjuran
  • 55 % pembudidaya ikan belum mengetahui kulitas air yang baik untuk ikan.
  • 50 % pembudidaya ikan belum mampu mengatasi hama penyakit yang muncul pada ikan gurame
  • 50 % pembudidaya ikan  belum mengetahui tatacara panen yang baik
  • 50 % pembudidaya ikan belum bisa melakukan diversifikasi pengolahan ikan

2.      Nila

  • 50 % pembudidaya ikan belum mampu mengatur kolam untuk kesinambungan ketersedian produksi ikan
  • 50 % pembudidaya ikan belum mampu menyeleksi induk ikan yang baik sesuai anjuran
  • 55 % pembudidaya ikan belum melakukan pemberian pakan sesuai anjuran
  • 50 % pembudidaya ikan belum mengetahui kulitas air yang baik untuk ikan.
  • 50 % pembudidaya ikan belum mampu mengatasi hama penyakit yang muncul pada ikan
  • 50 % pembudidaya ikan  belum mengetahui tatacara panen yang baik
  • 50 % pembudidaya ikan belum bisa melakukan diversifikasi pengolahan ikan

3.      Lele

  • 55 % pembudidaya ikan belum mampu mengatur kolam untuk kesinambungan ketersedian produksi ikan
  • 50 % pembudidaya ikan belum mampu menyeleksi induk ikan yang baik sesuai anjuran
  • 50 % pembudidaya ikan belum melakukan pemberian pakan sesuai anjuran
  • 55 % pembudidaya ikan belum mengetahui kulitas air yang baik untuk ikan.
  • 55 % pembudidaya ikan belum mampu mengatasi hama penyakit yang muncul pada ikan
  • 55 % pembudidaya ikan  belum mengetahui tatacara panen yang baik
  • 60 % pembudidaya ikan belum bisa melakukan diversifikasi pengolahan ikan

4.      Patin

  • 55 % pembudidaya ikan belum mampu mengatur kolam untuk kesinambungan ketersedian produksi ikan
  • 50 % pembudidaya ikan belum mampu menyeleksi induk ikan yang baik sesuai anjuran
  • 50 % pembudidaya ikan belum melakukan pemberian pakan sesuai anjuran
  • 55 % pembudidaya ikan belum mengetahui kulitas air yang baik untuk ikan.
  • 50 % pembudidaya ikan belum mampu mengatasi hama penyakit yang muncul pada ikan
  • 50 % pembudidaya ikan  belum mengetahui tatacara panen yang baik
  • 60 % pembudidaya ikan belum bisa melakukan diversifikasi pengolahan ikan

5.      Mas

  • 50 % pembudidaya ikan belum mampu mengatur kolam untuk kesinambungan ketersedian produksi ikan
  • 55 % pembudidaya ikan belum mampu menyeleksi induk ikan yang baik sesuai anjuran
  • 55 % pembudidaya ikan belum melakukan pemberian pakan sesuai anjuran
  • 50 % pembudidaya ikan belum mengetahui kulitas air yang baik
  • 55 % pembudidaya ikan belum mampu mengatasi hama penyakit yang muncul pada ikan
  • 50 % pembudidaya ikan  belum mengetahui tatacara panen yang baik
  • 60 % pembudidaya ikan belum bisa melakukan diversifikasi pengolahan ikan

6.      Bawal

  • 55 % pembudidaya ikan belum mampu mengatur kolam untuk kesinambungan ketersediaan produksi ikan
  • 45 % pembudidaya ikan belum mampu menyeleksi induk ikan yang baik sesuai anjuran
  • 50 % pembudidaya ikan belum melakukan pemberian pakan sesuai anjuran
  • 55 % pembudidaya ikan belum mengetahui kualitas air yang baik untuk ikan.
  • 55 % pembudidaya ikan belum mampu mengatasi hama penyakit yang muncul pada ikan
  • 55 % pembudidaya ikan  belum mengetahui tatacara panen yang baik
  • 50 % pembudidaya ikan belum bisa melakukan diversifikasi pengolahan ikan

4.1.4.   Kehutanan

Tentunya seiring dengan berbagai upaya yang dilakukan dalam pelaksanaan, pembenahan sekaligus penyempurnaan pembinaan serta pendampingan pelaku utama dan pelaku usaha sebagai bagian dari penyelenggaraan penyuluhan, masih terdapat beberapa masalah yang terus berkembang mengikuti dinamika pengembangan usahanya dengan tetap menjadikannya sebagai sebuah tantangan yang harus dicarikan solusinya atau bahkan dapat dijadikan sebagai sebuah peluang pada sektor kehutanan, sebagai berikut :

1.      Jamur Tiram

  • 60 % petani belum memahami dalam persiapan alat dan bahan yang sesuai
  • 55 % petani belum memahami cara mempersiapkan media sesuai anjuran
  • 60 % petani belum mampu melakukan strelisasi /pengukusan
  • 55 % petani belum mampu melakukan inokulasi sendiri
  • 46 % petani belum mampu melakukan inkubasi sendiri
  • 50 % petani belum mampu melakukan pemeliharaan produksi yang berkesinambungan

2.      Lebah Madu

  • 50 % petani belum mampu dalam pembuatan stup lebah
  • 50 % petani belum mampu melakukan pengisian koloni
  • 55 % petani belum mampu melakukan pemeliharaan
  • 65 % petani belum mampu melakukan panen madu

3.      Pembuatan persemaian

  • 55% petani belum mampu membuat bedengan
  • 50 % petani belum melakukan pengisian polybag yang benar
  • 50 % petani belum mampu melakukan pemilihan benih yang bagus
  • 55 % petani belum mampu melakukan perendaman benih yang baik
  • 55 % petani belum mampu melakukan penyemaian benih yang baik
  • 55 % petani belum mampu pemeliharaan

4.      Hutan Rakyat / Kebun Rakyat

  • 50% petani belum mampu dalam pengairan yang baik
  • 70 % petani belum dalam pembuatan hutan/kebun rakyat
  • 65 % petani belum mampu melakukan penanaman yang sesuai anjuran
  • 55 % petani belum mampu melakukan pemupukan sesuai anjuran
  • 65 % petani belum mampu melakukan pemeliharaan tanaman

4.2.    Permasalahan Non Teknis / Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan (PSK)

4.2.1.   Sosial Ekonomi

4.2.1.1.  Sosial

Disamping permasalahan teknis yang ditemui di wilayah binaan, muncul pula permasalahan-permasalahan lainnya yang bersifat non teknis pada sisi sosial yang tentunya akan sangat berpengaruh pula terhadap pengembangan usahanya jika tidak segera dilakukan penetapan solusi yang diiringi dengan aplikasinya, sebagai berikut :

a.      58 % anggota kelompok tani belum sadar dalam menghadiri pertemuan

b.      51 % pengurus kelompok tani belum memahami pembuatan administrasi pembukuan kelompok

c.      50 % pengurus kelompok tani belum memahami pembuatan rencana kerja kelompok / RDK / RUK

d.      50 % anggota kelompok tani belum memahami manfaat menabung

e.      45 % anggota tani masih lemah dalam informasi dan penerapan teknologi terkini

f.       65 % kelompok  belum mampu mengelola dan memberdayakan kelembagaan tani dewasa, wanita dan taruna dengan memperhatikan komoditas baru

4.2.1.2.  Ekonomi

Disamping permasalahan teknis yang ditemui di wilayah binaan, muncul pula permasalahan-permasalahan lainnya yang bersifat non teknis pada sisi ekonomi yang tentunya akan sangat berpengaruh pula terhadap pengembangan usahanya jika tidak segera dilakukan penetapan solusi yang diiringi dengan aplikasinya, sebagai berikut :

a.      64 % anggota kelompok tani belum melaksanakan pemupukan modal usaha tani dilakukan sesuai kebutuhan

b.      61 % anggota kelompok tani dalam pengadaan sarana produksi masih dilakukan sendiri-sendiri

c.      60 % anggota kelompok tani dalam penjualan hasil masih dilakukan secara sendiri-sendiri.

d.      40 % anggota kelompok tani  dalam hubungan kelembagaan dengan pihak perbankan masih lemah

e.      60 % anggota kelompok tani masih belum menyadari manfaat usaha koperasi

f.       50 % anggota kelompok tani belum mampu membuat analisa usaha sendiri


V. PENUTUP

Demikian Geografi Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Tahun 2010 ini disusun, untuk dapat dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan kinerja sekaligus sebagai bahan evaluasi penyelenggaraan penyuluhan selama satu tahun di bidang pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan, sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing di wilayah binaannya demi perwujudan masyarakat Kabupaten Bogor yang bertaqwa, berdaya dan berbudaya menuju sejahtera.

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 16 Juni 2011 06:09
 

Hak Cipta Badan Badan Pelaksanaan Penyuluhan pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Bogor